Samaun Dahlan: Semangat Rahmatan Lil Alamin Perkuat Toleransi di Tanah Papua

  • 08 Agt 2026 15:11 WIB
  •  Fak Fak

RRI.CO.ID, Fakfak – Bupati Fakfak Samaun Dahlan menegaskan nilai Rahmatan Lil Alamin atau kasih sayang kepada seluruh alam harus menjadi semangat dalam kehidupan masyarakat di Tanah Papua.

Hal tersebut disampaikan Samaun Dahlan dalam sambutannya pada Peringatan 666 Tahun Masuknya Agama Islam ke Tanah Papua yang dipusatkan di Kabupaten Fakfak, Sabtu 8 Agustus 2026.

Bupati menjelaskan, Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW dari Makkah kemudian berkembang di Madinah dan menyebar ke berbagai penjuru dunia, termasuk hingga ke Indonesia dan Tanah Papua. Menurutnya, Islam merupakan agama dakwah yang mengajak manusia meniti jalan pengabdian kepada Allah SWT.

“Islam adalah agama dakwah. Misi dakwah Islam mengajak manusia meniti jalan menuju pengabdian kepada Allah SWT. Nilai universalnya adalah Rahmatan Lil Alamin, yang dapat kita maknai sebagai cinta kasih,” ujar Samaun.

Ia menyebut, berdasarkan hasil kajian dan seminar sejarah, Islam masuk ke Tanah Papua melalui Fakfak pada 8 Agustus 1360 M atau 24 Ramadan 761 Hijriah, dibawa oleh seorang mubalig dari Aceh bernama Syekh Abdul Ghaffar yang mendarat di Gar, Kampung Rumbati, Fakfak.

Samaun juga menegaskan Fakfak dan Manokwari memiliki posisi penting dalam sejarah masuknya agama-agama besar ke Tanah Papua. Kristen Protestan masuk melalui Pulau Mansinam, Manokwari, pada 5 Februari 1855, sedangkan Katolik masuk melalui Fakfak pada 22 Mei 1894 yang dibawa Pastor Cornelis Le Cocq d'Armandville.

“Papua Barat boleh dikatakan sebagai wilayah yang diberkati dan dipilih Tuhan sebagai tempat masuknya tiga agama besar, yakni Islam, Protestan dan Katolik,” katanya.

Menurut Bupati, peristiwa sejarah tersebut tidak sekadar untuk dikenang, tetapi harus menjadi sumber nilai dalam membangun kehidupan masyarakat yang rukun, damai dan saling menghargai. Semangat Rahmatan Lil Alamin, kata dia, harus diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat tanpa membedakan suku, etnis maupun agama.

Ia menilai nilai cinta kasih tersebut telah lama hidup dalam budaya masyarakat Fakfak melalui filosofi lokal “Idu-Idu Maninina Jojor” atau “Satu Tungku Tiga Batu”. Nilai tersebut menjadi salah satu landasan dalam membangun kehidupan masyarakat Fakfak yang beragam.

Samaun juga mendorong agar sejarah masuknya tiga agama besar ke Tanah Papua dapat menjadi bagian dari kurikulum muatan lokal di tingkat pendidikan. Menurutnya, pengetahuan sejarah tersebut penting dipahami generasi muda agar mereka mengetahui akar sejarah keberagaman dan kehidupan toleransi di Papua.

“Saya berharap kepada kepala dinas pendidikan dan pemuda olahraga, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten, agar sejarah masuknya tiga agama besar, Islam, Protestan dan Katolik di Tanah Papua menjadi kurikulum muatan lokal yang terintegrasi ke dalam semua mata pelajaran,” ungkapnya.

Ia menambahkan, peringatan 666 tahun masuknya Islam ke Tanah Papua juga menjadi momentum mempererat silaturahmi seluruh masyarakat Fakfak. Kegiatan tersebut tidak hanya bernuansa keagamaan, tetapi juga menjadi ruang kebersamaan yang dapat melibatkan seluruh kelompok masyarakat.

Bupati mengapresiasi panitia yang telah menyelenggarakan berbagai kegiatan dalam rangkaian peringatan, mulai dari lomba hadrat, sawat, bersalawat, baca Yasin, kitab berjanji, ceramah, hingga haflah Al-Qur'an.

“Kegiatan ini bersifat tontonan sekaligus tuntunan. Yang dikumandangkan adalah firman Allah dan salawat Nabi. Kegiatan semacam ini harus terus dilaksanakan dalam setiap peringatan masuknya agama Islam ke Tanah Papua,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Samaun juga memperkenalkan sejumlah situs sejarah dan religi di Fakfak, di antaranya Masjid Tua Wartutuar di Kampung Patimburak, Distrik Kokas, situs tapak tangan di Distrik Arguni, serta manuskrip Al-Qur'an tua tulisan tangan yang masih tersimpan hingga kini.

Ia berharap kehadiran para tokoh agama dan tamu dari berbagai daerah, termasuk Ustaz KH Munawir Aseli, MA., dari Jakarta, dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya mengaktualisasikan konsep Rahmatan Lil Alamin dalam kehidupan sehari-hari.

“Konsep cinta kasih akan melahirkan keharmonisan. Nilai keharmonisan itu harus diaktualkan di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang beragama,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....