Sinergi Adat dan Pemerintah Komitmen Jaga Pala Fakfak
- 24 Apr 2026 19:06 WIB
- Fak Fak
RRI.CO.ID, Fakfak - Lembaga kultur bersama tokoh adat di Kabupaten Fakfak mulai mempersiapkan pelaksanaan ritual adat Meri Totora sebagai upaya menjaga dan melestarikan komoditas unggulan daerah, yakni pala Fakfak.
Persiapan tersebut dilakukan melalui pertemuan bersama yang melibatkan unsur lembaga adat, tokoh masyarakat, serta instansi teknis pemerintah daerah guna menyatukan langkah dalam menjaga keberlanjutan komoditas pala, Kamis 23 April 2026.
Kegiatan ini dipimpin Ketua Dewan Adat Mbaham Matta, Apner Hegemur, bersama Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Fakfak, Valentinus Kabes, serta dihadiri para orang tua adat dan perwakilan dinas terkait.
Dalam pertemuan tersebut, para tokoh adat menegaskan ritual Meri Totora bukan sekadar tradisi, melainkan memiliki makna mendalam dalam menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan komoditas pala yang telah menjadi identitas masyarakat Fakfak secara turun-temurun.
Ketua Dewan Adat Mbaham Matta, Apner Hegemur, menyampaikan bahwa pala Fakfak merupakan warisan leluhur yang harus dijaga bersama, baik dari sisi nilai adat, budaya, maupun nilai ekonominya bagi masyarakat.
“Pala Fakfak adalah warisan leluhur yang harus kita jaga bersama. Ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga menyangkut nilai adat dan budaya yang sudah turun-temurun,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua LMA Fakfak, Valentinus Kabes, menekankan pentingnya keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam menjaga keberlanjutan pala. Ia menyebut masyarakat adat telah lama memiliki kearifan lokal dalam merawat pohon pala.
“Sejak dulu masyarakat adat sudah punya aturan sendiri dalam merawat pala agar tetap produktif dan berkualitas. Ini yang harus kita jaga bersama,” katanya.
Dalam diskusi juga terungkap meski kualitas pala Fakfak sangat baik, komoditas ini belum sepenuhnya memberikan kesejahteraan optimal bagi masyarakat.
Dalam perdagangan nasional, pala Fakfak dinilai masih kalah populer dibanding komoditas lain seperti cengkeh, lada, dan kakao. Kondisi ini menjadi refleksi bersama bagi pemerintah daerah, lembaga adat, dan pelaku usaha untuk mendorong pengembangan pala agar mampu bersaing di pasar nasional hingga internasional.
Para tokoh adat juga mengingatkan bahwa pada masa lalu masyarakat Fakfak telah mampu membawa pala hingga ke berbagai wilayah perdagangan seperti Singapura dan Belanda, meski dengan keterbatasan sarana.
Melalui pelaksanaan ritual Meri Totora, lembaga adat berharap nilai-nilai kearifan lokal kembali dihidupkan dalam pengelolaan pala, mulai dari penanaman, perawatan, hingga panen.
Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, Widhi Asmoro Jati, dalam kesempatan tersebut menekankan tiga isu utama yang harus menjadi perhatian bersama, yakni mutu dan kualitas pala, harga yang layak bagi petani, serta tata niaga yang lebih berkeadilan.
“Pala adalah bagian dari identitas daerah kita. Ia bukan hanya tanaman, tetapi juga warisan leluhur yang harus kita jaga bersama,” ungkapnya.
Ia menambahkan, sinergi antara pemerintah dan masyarakat adat menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan pala Fakfak.
“Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Kita harus bersama masyarakat adat menjaga mutu pala, karena dari situ harga dan tata niaga juga akan ikut membaik,” jelasnya.
Melalui kolaborasi tersebut, diharapkan pala Fakfak tidak hanya tetap lestari sebagai warisan budaya, tetapi juga mampu berkembang sebagai komoditas bernilai ekonomi tinggi yang meningkatkan kesejahteraan petani serta mengharumkan nama daerah di pasar dunia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....