Mohamad Lakotani: Islam Bagian Dari Sejarah Papua
- 08 Agt 2025 14:28 WIB
- Fak Fak
KBRN, Fakfak :Pemerintah Provinsi Papua Barat secara resmi menyampaikan dukungan dan penghargaan atas penetapan tanggal 8 Agustus 1360 sebagai awal mula masuknya agama Islam di Tanah Papua, khususnya di Kabupaten Fakfak. Hal ini disampaikan Wakil Gubernur Papua Barat, Mohamad Lakotani, dalam puncak peringatan 665 tahun masuknya Islam di Tanah Papua, Jumat (8/8/2025), di RTH Kyai Ma’ruf Amin, Fakfak.
Dalam sambutannya, Wakil Gubernur mengapresiasi kerja keras panitia, tokoh agama, dan seluruh elemen masyarakat yang terlibat dalam penetapan tanggal ini.
“Kami menyambut baik penetapan waktu yang telah disepakati melalui berbagai forum luar biasa, sebagaimana tadi telah disampaikan oleh panitia dan para pimpinan daerah,” ujarnya.
Mohamad Lakotani mengungkapkan saat kesepakatan waktu ini ditetapkan, dirinya masih menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Papua Barat.
“Saya sendiri terlibat dalam proses penetapan ini, dan hari ini saya kembali pulang ke Fakfak, tempat saya menempuh pendidikan dulu, sekaligus ingin berbagi dan memberi motivasi,” ucapnya.
Menurutnya, hasil Seminar Nasional pada 11 Januari 2025 di Fakfak telah menyepakati bahwa Islam pertama kali masuk melalui Distrik Patipi (Purwangi), Kabupaten Fakfak, jauh lebih awal dari yang diperkirakan sebelumnya, yakni pada abad ke-14. Proses masuknya Islam tak hanya melalui jalur perdagangan maritim, tetapi juga melalui hubungan politik dan budaya antara kerajaan-kerajaan Maluku dan pemimpin lokal di Papua.
“Hasil seminar berhasil menyatukan berbagai versi sejarah dan menetapkan tanggal pasti masuknya Islam, yakni 8 Agustus 1360. Fakta ini penting untuk memperkaya wawasan generasi muda dan memperkuat ikatan sosial antarumat beragama,” jelasnya.
Wakil Gubernur juga menekankan sejarah Islam di Papua menjadi bagian penting dalam sistem sosial masyarakat, yang selaras dengan konsep kearifan lokal “Satu Tungku Tiga Batu”. “Tradisi ini sudah hadir jauh sebelum dunia mengenal narasi toleransi,” katanya.
Ia berharap penetapan tanggal ini dapat meningkatkan semangat persaudaraan dan silaturahmi antarwarga Papua, serta memperkuat pondasi spiritual dan mental untuk membangun Papua secara menyeluruh.
“Mari kita jadikan momentum ini untuk melangkah lebih baik, saling mengingatkan dan membantu dalam membangun Tanah Papua,” pesannya.
Menutup sambutannya, Mohamad Lakotani menyatakan Pemerintah Provinsi Papua Barat telah menetapkan 8 Agustus sebagai hari libur daerah, dan pihaknya akan mendorong agar penetapan ini juga diakui secara resmi di seluruh wilayah Tanah Papua. “Insya Allah, semoga apa yang kita niatkan ini mendapat ridho dari Allah SWT,” tutupnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....