Tausiyah Muhammad Said Jelaskan Tiga Tingkatan Puasa

  • 25 Feb 2026 11:20 WIB
  •  Fak Fak

RRI.CO.ID, Fakfak - Pelaksanaan sholat tarawih malam ke-7 Ramadan 1447 Hijriah di Masjid Jami Kabupaten Fakfak, Selasa, 24 Februari 2026, berlangsung khusyuk. Sejak usai sholat Isya, jemaah telah memenuhi saf untuk menunaikan ibadah di bulan suci yang penuh berkah tersebut.

Suasana masjid tampak tertib dan penuh kekhidmatan. Lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema di dalam masjid, sementara para jamaah larut dalam rangkaian ibadah malam Ramadan yang menjadi momentum meningkatkan keimanan dan ketakwaan.

Bertindak sebagai penceramah, Muhammad Said menyampaikan tausiyah tentang makna dan keutamaan bulan Ramadan. Ia menjelaskan bahwa Ramadan merupakan bulan yang diwajibkan Allah SWT bagi umat Islam untuk melaksanakan ibadah puasa.

“Ramadhan sering disebut sebagai bulan yang diwajibkan bagi kita untuk melaksanakan ibadah puasa. Ramadhan juga dikenal sebagai bulan yang dimudahkan oleh Allah SWT bagi hamba-hamba-Nya untuk memperbanyak amal,” ujar Muhammad Said dalam tausiyahnya.

Ia juga menegaskan bahwa Ramadan disebut sebagai syahrul quran, yakni bulan diturunkannya Al-Qur’an. Menurutnya, puasa memiliki keistimewaan tersendiri dibanding ibadah lainnya karena bersifat rahasia dan hanya Allah SWT yang mengetahui kualitas pelaksanaannya.

“Puasa adalah ibadah yang bersifat rahasia. Hanya yang melaksanakan dan Allah SWT yang mengetahui. Karena puasa adalah amanah dari Allah yang harus kita jalankan sebagai umat beriman,” katanya.

Dalam ceramahnya, Muhammad Said turut mengutip pendapat Imam Al-Ghazali yang mengklasifikasikan puasa ke dalam tiga tingkatan. Tingkatan pertama adalah puasa orang awam, yakni sekadar menahan lapar, haus, dan tidak berhubungan suami-istri di siang hari.

“Tingkatan kedua adalah puasa khusus, yaitu menahan lapar dan haus sekaligus menjaga seluruh anggota tubuh dari perbuatan maksiat. Mata, telinga, mulut, tangan, dan hati diajak berpuasa agar terhindar dari iri hati, sombong, dan perbuatan tercela,” jelasnya.

Ia menambahkan, tingkatan tertinggi adalah puasa khususul khusus, yakni puasa orang-orang yang sepenuhnya menghadirkan Allah dalam setiap aspek kehidupannya. “Orang yang berada pada tingkatan ini tidak lagi memikirkan hal-hal duniawi secara berlebihan. Ketika hatinya lalai dari mengingat Allah, maka ia merasa puasanya menjadi tidak sempurna,” tutupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....