Mengenal Lebih Dekat Hipotermia: Penyebab, Gejala, Pencegahan, dan Pertolongan Pert

  • 27 Agt 2026 17:07 WIB
  •  Fak Fak

RRI.CO.ID, Fakfak - Hipotermia merupakan kondisi ketika suhu inti tubuh turun hingga di bawah 35°C. Kondisi ini terjadi ketika tubuh kehilangan panas lebih cepat daripada kemampuannya menghasilkan panas. Hipotermia bukan sekadar rasa kedinginan biasa, tetapi dapat menjadi kondisi medis yang serius dan membutuhkan penanganan segera.

Meskipun sering dikaitkan dengan cuaca yang sangat dingin, hipotermia juga dapat terjadi pada kondisi yang tidak terlalu ekstrem. Tubuh dapat kehilangan panas dengan cepat ketika seseorang terkena hujan, mengenakan pakaian basah, berkeringat dalam lingkungan dingin, atau berada di dalam air dingin dalam waktu tertentu.

Hipotermia terjadi ketika suhu tubuh turun di bawah batas normal. Pada kondisi tersebut, tubuh berusaha mempertahankan suhu inti dengan berbagai mekanisme, salah satunya melalui menggigil untuk menghasilkan panas.

Jika paparan dingin terus berlangsung, kemampuan tubuh untuk mempertahankan suhu dapat semakin menurun. Kondisi ini kemudian dapat memengaruhi fungsi otak, kemampuan bergerak, pernapasan, dan kerja jantung.

Menurut WHO, hipotermia merupakan kondisi ketika suhu tubuh berada di bawah 35°C. Kondisi ini dapat terjadi pada orang yang terpapar lingkungan dingin, termasuk mereka yang berada dalam kondisi basah atau terkena air dingin.

Penyebab utama hipotermia adalah hilangnya panas tubuh secara berlebihan. Beberapa keadaan yang dapat meningkatkan risiko antara lain:

Berada terlalu lama di lingkungan yang dingin.

Terkena hujan dan tidak segera mengganti pakaian.

Menggunakan pakaian yang basah.

Terendam atau jatuh ke dalam air dingin.

Berkeringat ketika berada di lingkungan dingin.

Beraktivitas di luar ruangan dalam waktu lama tanpa perlindungan yang cukup.

Tidak memiliki tempat berlindung atau pakaian yang memadai.

CDC juga menjelaskan bahwa hipotermia dapat terjadi bahkan pada suhu yang tidak terlalu rendah apabila seseorang menjadi basah atau mengalami paparan dingin dalam waktu cukup lama.

Siapa pun dapat mengalami hipotermia, tetapi beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi. Kelompok tersebut antara lain bayi, lansia, orang yang menghabiskan banyak waktu di luar ruangan, pekerja luar ruangan, pendaki, serta orang yang tidak memiliki pakaian atau tempat tinggal yang cukup hangat.

Bayi juga perlu mendapatkan perhatian khusus karena mereka lebih mudah kehilangan panas tubuh. Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa hipotermia pada bayi dapat berkaitan dengan berbagai gangguan kesehatan sehingga pencegahan dan pemantauan suhu tubuh sangat penting.

Kenali Gejala Hipotermia

Mengenali gejala sejak awal sangat penting agar pertolongan dapat segera diberikan. Beberapa tanda hipotermia pada orang dewasa meliputi:

Menggigil.

Tubuh terasa sangat lelah.

Tangan menjadi kurang terampil atau sulit melakukan gerakan dengan baik.

Kebingungan.

Gangguan daya ingat.

Bicara menjadi tidak jelas.

Mengantuk.

Pada kondisi yang semakin berat, kemampuan tubuh untuk menggigil dapat menghilang. Kesadaran dapat menurun, pernapasan dan denyut jantung dapat melambat, bahkan seseorang dapat kehilangan kesadaran.

Pada bayi, tanda yang perlu diperhatikan antara lain kulit terasa dingin, kulit tampak merah, dan aktivitas atau energi bayi sangat rendah.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Seseorang Mengalami Hipotermia?

Hipotermia merupakan kondisi yang dapat menjadi keadaan darurat medis. Jika terdapat tanda-tanda hipotermia, pertolongan medis perlu dicari sesegera mungkin.

Sambil menunggu pertolongan, beberapa tindakan yang dapat dilakukan adalah:

Pindahkan orang tersebut ke tempat yang hangat dan terlindung dari dingin.

Lepaskan pakaian yang basah dan ganti dengan pakaian yang kering.

Selimuti tubuh, terutama bagian kepala dan leher.

Hangatkan bagian tengah tubuh, seperti dada dan leher, secara perlahan.

Jika orang tersebut sadar dan mampu menelan, berikan minuman hangat nonalkohol.

Pantau kondisi dan tingkat kesadarannya.

Segera dapatkan pertolongan medis.

Jangan memberikan minuman kepada orang yang tidak sadar karena dapat berisiko tersedak. Alkohol juga tidak boleh diberikan karena bukan merupakan cara yang aman untuk mengatasi hipotermia.

Jika seseorang tidak sadar dan tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan, kondisi tersebut merupakan keadaan darurat dan memerlukan bantuan medis segera. CDC menyarankan penanganan resusitasi sesuai kebutuhan sambil menunggu bantuan profesional.

Bagaimana Cara Mencegah Hipotermia?

Hipotermia pada dasarnya dapat dicegah dengan mengurangi paparan terhadap dingin dan menjaga tubuh tetap kering.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

Gunakan pakaian berlapis ketika berada di lingkungan dingin.

Gunakan pakaian yang kering dan segera ganti pakaian apabila basah.

Gunakan jaket atau pakaian pelindung ketika berada di luar ruangan.

Lindungi kepala, tangan, dan kaki dari udara dingin.

Jangan mengabaikan kondisi tubuh ketika mulai menggigil.

Segera mencari tempat yang hangat apabila tubuh mulai terasa sangat dingin.

Hindari berada terlalu lama di air dingin.

Perhatikan kondisi bayi dan lansia ketika suhu lingkungan menurun.

Menggigil merupakan salah satu tanda awal bahwa tubuh sedang kehilangan panas. Karena itu, jangan menganggap remeh menggigil terus-menerus, terutama setelah terkena hujan atau berada di lingkungan dingin.

Hipotermia Bukan Sekadar "Masuk Angin"

Dalam kehidupan sehari-hari, rasa dingin terkadang dianggap sebagai hal biasa. Namun, hipotermia berbeda dari sekadar merasa kedinginan. Pada hipotermia, suhu inti tubuh benar-benar turun dan kondisi tersebut dapat mengganggu fungsi otak serta organ tubuh lainnya.

Oleh karena itu, seseorang yang mengalami kebingungan, bicara tidak jelas, mengantuk berat, kehilangan koordinasi, atau menunjukkan penurunan kesadaran setelah terpapar udara atau air dingin harus segera mendapatkan pertolongan.

Hipotermia adalah kondisi serius yang terjadi ketika suhu inti tubuh turun di bawah 35°C. Kondisi ini dapat terjadi akibat paparan udara dingin, hujan, pakaian basah, keringat, atau air dingin.

Mengenali tanda awal seperti menggigil, kelelahan, kebingungan, dan gangguan koordinasi sangat penting. Jika hipotermia dicurigai, segera pindahkan korban ke tempat yang hangat, lepaskan pakaian basah, selimuti tubuh, dan cari pertolongan medis.

Dengan menggunakan pakaian yang sesuai, menjaga tubuh tetap kering, serta tidak mengabaikan tanda-tanda kedinginan, risiko hipotermia dapat dikurangi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....