Dinkes Papua Barat Tetapkan Empat Lokus Campak Fakfak

  • 23 Apr 2026 11:23 WIB
  •  Fak Fak

RRI.CO.ID, Fakfak - Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat mencatat adanya peningkatan kasus campak rubela di Kabupaten Fakfak dalam empat minggu terakhir berdasarkan hasil pemantauan sistem kewaspadaan dini dan respons (SKDR).

Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan Papua Barat, Billy Graham Makamur, mengatakan peningkatan kasus tersebut terdeteksi dari laporan surveilans yang menunjukkan lonjakan khususnya di wilayah kerja Puskesmas Sekban.

“Berdasarkan pemantauan dari pelaporan surveillance SKDR, dalam empat minggu terakhir terjadi peningkatan kasus, khususnya di wilayah kerja Puskesmas Sekban di Kabupaten Fakfak,” ujarnya saat diwawancarai terkait penanganan kasus campak rubela.

Ia menjelaskan, dari hasil pemantauan tersebut, pihaknya menetapkan empat lokasi atau lokus yang menjadi sasaran utama penanganan. Kasus yang ditemukan saat ini dikategorikan sebagai campak klinis.

“Untuk kasus campak aktif harus terkonfirmasi melalui hasil laboratorium, sementara di Fakfak hasil laboratoriumnya belum ada, sehingga kita tetapkan sebagai kasus campak klinis berdasarkan penularan secara epidemiologi,” jelasnya.

Menurut Billy, penularan terjadi antarwilayah dengan pola kontak erat, seperti dari Kampung Tanama ke Dulan Pokpok hingga ke Kelurahan Wagom. Hal ini menunjukkan adanya hubungan epidemiologis yang kuat dalam penyebaran kasus.

“Dalam empat minggu terakhir terjadi penularan di beberapa lokasi, sehingga ada empat lokus yang menjadi sasaran penanganan,” katanya.

Sebagai langkah pengendalian, Dinas Kesehatan melakukan imunisasi outbreak response immunization (ORI) yang menyasar bayi hingga balita tanpa memandang status imunisasi sebelumnya.

“Semua bayi sampai balita usia 0 sampai kurang dari lima tahun harus diimunisasi campak untuk menangani masalah ini,” tegasnya.

Selain itu, pihaknya juga melakukan sweeping atau penjangkauan aktif terhadap anak-anak yang belum mendapatkan vaksin, terutama di wilayah dengan capaian imunisasi rendah.

“Kita melakukan imunisasi massal dan sweeping bagi bayi dan balita yang belum divaksin, untuk memastikan seluruh sasaran mendapatkan perlindungan,” ujarnya.

Billy menambahkan, upaya tersebut dilakukan untuk memutus mata rantai penularan agar kasus tidak terus meningkat, bahkan diharapkan dapat menurunkan hingga meniadakan kasus campak di wilayah tersebut.

“Penularan campak bisa terjadi melalui kontak langsung maupun droplet, sehingga langkah imunisasi dan penjangkauan ini penting untuk memutus rantai penularan,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....