Kelurahan Fakfak Utara Jadi Pilot Project Pengelolaan Sampah

  • 03 Sep 2026 14:31 WIB
  •  Fak Fak

RRI.CO.ID, Fakfak - Wakil Bupati Fakfak, Donatus Nimbitkendik, menegaskan persoalan persampahan masih menjadi salah satu tantangan krusial dalam mewujudkan pembangunan daerah yang berkelanjutan. Pertumbuhan jumlah sampah di Kabupaten Fakfak terus meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk.

Hal tersebut disampaikan Donatus Nimbitkendik saat memberikan sambutan dalam kegiatan Launching Implementasi Tata Kelola Sampah Berbasis Masyarakat Melalui Strategi Dual Track Ecosystem serta Sosialisasi dan Pelatihan Pembuatan Kompos di Kelurahan Fakfak Utara.

Menurutnya, pola penanganan sampah di Kabupaten Fakfak selama ini sebagian besar masih bertumpu pada pola konvensional, yakni kumpul, angkut, dan buang. Pola tersebut dinilai perlu segera diubah agar persoalan sampah tidak semakin membebani lingkungan di masa mendatang.

“Jika pola linier ini terus dipertahankan, maka dalam jangka panjang akan memicu kelebihan sampah yang kita akan buang. Oleh karena itu, melalui momentum hari ini, kita melakukan pergeseran paradigma besar,” ujar Donatus.

Ia menekankan, pengelolaan sampah tidak lagi dapat diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah. Penanganan persoalan tersebut harus dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan peran aktif masyarakat mulai dari hulu hingga hilir.

Langkah tersebut, kata Donatus, sejalan dengan visi pembangunan daerah serta misi keempat Kabupaten Fakfak, yakni meningkatkan kuantitas dan kualitas infrastruktur dasar berbasis lingkungan melalui program Unggul Bersih Kotaku.

Melalui strategi Dual Track Ecosystem yang diluncurkan di Kelurahan Fakfak Utara, tata kelola sampah dibagi ke dalam dua jalur utama yang saling terintegrasi. Jalur pertama adalah Sentra Komposting Komunal untuk menangani sampah organik, seperti sisa makanan, yang dipilah dan diolah menjadi pupuk kompos.

“Hasil dari kompos ini nantinya disalurkan untuk mendukung sektor pertanian serta memenuhi kebutuhan pupuk bagi perkebunan pala rakyat di Kabupaten Fakfak melalui sistem kemitraan yang saling menguntungkan,” katanya.

Sementara jalur kedua adalah digitalisasi Bank Sampah untuk menangani sampah anorganik bernilai ekonomi, seperti botol plastik, karton, dan kertas. Sampah tersebut akan dikumpulkan melalui Bank Sampah yang terintegrasi dengan sistem digital berbasis website guna meningkatkan transparansi saldo nasabah serta memperluas jaringan pemasaran material daur ulang.

Donatus menambahkan, gerakan tersebut juga mengoptimalkan kearifan lokal melalui filosofi satu tungku tiga batu dengan mengedepankan kolaborasi tiga pilar, yakni revitalisasi Bank Sampah, kelompok PKK sebagai motor pemilahan di tingkat keluarga, serta komunitas masyarakat dan pemuda sebagai garda depan dalam operasional di lapangan. Ia berharap Kelurahan Fakfak Utara yang ditunjuk sebagai pilot project dapat menjadikan program tersebut sebagai awal perubahan perilaku nyata dalam pengelolaan sampah, khususnya di lingkungan rumah tangga. “Jadikan kegiatan hari ini sebagai titik awal perubahan perilaku nyata di tengah masyarakat kita masing-masing, khususnya dalam rumah tangga,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....