Peserta Pelatihan BLK Fakfak Terkendala Biaya Transportasi Harian

  • 21 Apr 2026 11:11 WIB
  •  Fak Fak

RRI.CO.ID, Fakfak, - Pelatihan Kejuruan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Program Practical Office Tahun 2026 Batch 1 saat ini tengah berlangsung di Balai Latihan Kerja (BLK) Kabupaten Fakfak. Kegiatan ini merupakan bagian dari Pelatihan Vokasi Nasional Batch 1 Tahun 2026 yang bertujuan meningkatkan kompetensi kerja peserta di bidang administrasi perkantoran berbasis teknologi.

Program pelatihan ini dilaksanakan dengan sistem berbasis kompetensi, dengan total durasi mencapai 240 jam pelajaran (JP). Para peserta dibekali keterampilan praktis seperti pengoperasian aplikasi perkantoran, pengelolaan dokumen, hingga kemampuan pendukung kerja lainnya yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.

Kepala BLK Kabupaten Fakfak, Muhammad Awaludin Nur, menyampaikan bahwa pelatihan ini diikuti oleh 16 peserta yang hingga kini masih aktif mengikuti proses pembelajaran. Ia menjelaskan, secara umum pelatihan berjalan lancar meskipun terdapat beberapa kendala yang dihadapi peserta.

“Dari jumlah peserta 16 orang tersebut, kami masih tetap sampai sekarang ini, walaupun ada 1–2 yang biasanya mengalami kendala-kendala,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kendala utama yang dihadapi peserta bukan pada materi pelatihan, melainkan faktor eksternal seperti transportasi menuju lokasi BLK.

Menurutnya, sebagian besar peserta mengalami kesulitan biaya transportasi karena akses menuju BLK belum didukung sarana angkutan umum yang memadai. “Kendala kebanyakan di transportasi. Mereka punya uang transport yang agak susah untuk ke BLK, karena di sini tidak ada jalur angkot seperti di Kelurahan Wagom,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, banyak peserta harus menggunakan jasa ojek dengan biaya yang cukup tinggi untuk mencapai lokasi pelatihan. Kondisi ini menuntut kesiapan finansial awal dari peserta, meskipun pelatihan yang diberikan bersifat gratis dan peserta juga mendapatkan fasilitas makan siang serta bantuan transport di akhir pelatihan sebesar Rp20.000.

Lebih lanjut, Muhammad Awaludin Nur berharap adanya dukungan dari pemerintah kampung maupun pihak terkait untuk menghadirkan pelatihan serupa yang lebih dekat dengan masyarakat. Ia menekankan bahwa sebagian besar peserta merupakan anak-anak Orang Asli Papua (OAP) yang membutuhkan akses pelatihan yang lebih mudah dan merata guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia di daerah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....