​Asal Usul Tradisi Beli baju Baru Untuk Lebaran

  • 04 Apr 2024 14:13 WIB
  •  Fak Fak

KBRN, Fakfak : Jelang Hari Raya Idul Fitri berbagai pusat perbelanjaan ramai dengan pengunjung yang mencari pakaian baru. Tradisi membeli baju baru untuk dikenakan di hari Raya ternyata sudah ada sejak abad ke 20 dan masih dipertahankan hingga saat ini.

Fakta ini termuat dalam catatan Snouck Hugronje, penasihat urusan pribumi untuk pemerintah kolonial kepada Direktur Pemerintahan Dalam Negeri.

Dilansir dari laman hypeabis, keterangannya tersebut dimuat dalam surat Nasihat-Nasihat Snouck Hugronje Semasa Kepegawaiannya kepada Pemerintah Hindia Belanda 1889-1939 Jilid IV. Dalam surat yang ditulis pada 20 April 1904 tersebut, tercatat bagaimana cara masyarakat merayakan Idulfitri.

Snouck menjelaskan saat Lebaran akan ada sebuah perayan pesta yang disertai dengan makanan khusus, kegiatan saling bertandang oleh kerabat dan kenalan. Dan pakaian baru menjadi salah satu pelengkap untuk berkunjung saat hari Lebaran.

Tradisi yang diketahui sejak masa penjajahan Belanda itu, ternyata mirip dengan kebiasaan orang di Eropa. Snouck menjelaskan bahwa rutinitas tersebut kerap dilakukan setahun sekali saat perayaan tahun baru. Kebiasaan ini kemudian diserap oleh masyarakat Indonesia saat perayaan Idulfitri.

Dalam buku berjudul Islam di Hindia Belanda, Snouck menerangkan bahwa tradisi saling bertamu pada hari pertama bulan kesepuluh dengan mengenakan pakaian serba baru mengingatkan kita pada perayaan tahun baru Eropa.

Itulah asal usul tradisi beli baju lebaran. Meski demikian, baju lebaran bukanlah suatu kewajiban yang harus dimiliki semua orang saat Lebaran datang.

Rekomendasi Berita