Menghadapi El Niño: 7 Tips Penting agar Tetap Aman
- 18 Agt 2026 12:58 WIB
- Fak Fak
RRI.CO.ID, Fakfak - Fenomena El Niño kembali menjadi perhatian karena dapat meningkatkan risiko kemarau panjang, kekeringan, suhu panas, kebakaran hutan dan lahan, hingga gangguan terhadap ketersediaan pangan dan kesehatan masyarakat.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 2026 mengingatkan bahwa dampak El Niño perlu diantisipasi sejak dini. Pada sejumlah wilayah Indonesia, kondisi ini dapat menyebabkan curah hujan berada di bawah normal dan meningkatkan risiko kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan.
Penelitian ilmiah juga menunjukkan bahwa El Niño memiliki hubungan kuat dengan kondisi panas dan kering di Indonesia. Studi yang diterbitkan dalam Bulletin of the American Meteorological Society menemukan bahwa perubahan iklim dan El Niño bersama-sama meningkatkan kemungkinan terjadinya panas ekstrem dan kekeringan di Indonesia.
Dilansir dari beberapa sumber, salah satunya Environesia. Berikut sejumlah langkah yang dapat dilakukan untuk menghadapi dampak El Niño.
1. Simpan dan gunakan air secara bijak
Salah satu dampak paling nyata dari El Niño di Indonesia adalah berkurangnya curah hujan di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut dapat menyebabkan sumber air, waduk, sungai, dan cadangan air tanah mengalami tekanan.
Masyarakat dapat mulai menghemat air dengan mengurangi penggunaan air untuk aktivitas yang tidak mendesak, memperbaiki keran atau pipa yang bocor, serta menyimpan cadangan air bersih secukupnya apabila wilayah tempat tinggal berisiko mengalami kekeringan.
Penelitian mengenai dampak El Niño terhadap ketersediaan air pertanian di Magelang, Jawa Tengah, menunjukkan bahwa El Niño merupakan salah satu faktor penting yang berkontribusi terhadap kekeringan di wilayah pertanian. Studi tersebut menekankan pentingnya memahami perubahan ketersediaan air dan melakukan pengelolaan sumber daya air secara lebih adaptif.
Tips sederhana: prioritaskan air untuk minum, memasak, kebersihan, dan kebutuhan kesehatan. Hindari pemborosan untuk kegiatan yang dapat ditunda.
2. Waspadai cuaca panas dan risiko dehidrasi
Kemarau yang dipengaruhi El Niño dapat disertai peningkatan suhu dan kondisi panas yang lebih berat. Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan tanda-tanda tubuh mengalami kekurangan cairan.
Minumlah air secara teratur, jangan menunggu sampai merasa sangat haus, gunakan pakaian yang ringan dan menyerap keringat, serta kurangi aktivitas fisik berat ketika suhu sedang tinggi.
Kelompok yang lebih rentan terhadap dampak panas, seperti anak-anak, lansia, pekerja luar ruangan, dan orang dengan kondisi kesehatan tertentu, perlu mendapat perhatian lebih.
Kajian mengenai dampak El Niño terhadap kesehatan masyarakat menunjukkan bahwa perubahan suhu dan pola cuaca akibat El Niño dapat meningkatkan risiko gelombang panas serta berbagai masalah kesehatan.
3. Kurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk
Musim kering juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Ketika terjadi kebakaran, asap dapat menyebabkan kualitas udara menurun dan meningkatkan paparan partikulat berbahaya.
Masyarakat sebaiknya memantau informasi kualitas udara dan mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila konsentrasi polutan meningkat. Gunakan masker yang sesuai ketika kondisi udara berasap dan tutup pintu serta jendela jika asap masuk ke dalam rumah.
Risiko ini bukan sekadar persoalan lingkungan. Penelitian mengenai asap kebakaran menunjukkan bahwa paparan asap dapat memperburuk penyakit pernapasan, termasuk asma, serta menurunkan fungsi paru, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak.
BMKG sendiri merekomendasikan peningkatan pemantauan kualitas udara dan konsentrasi PM2.5 serta penguatan kesiapsiagaan fasilitas kesehatan dalam menghadapi dampak El Niño.
4. Jangan membakar sampah atau membuka lahan dengan api
| Baca juga: Cara Aman Mendampingi Anak di Dunia Digital |
Dalam kondisi kering, vegetasi dan lahan menjadi lebih mudah terbakar. Api kecil yang tidak terkendali dapat berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar.
Karena itu, masyarakat sebaiknya menghindari pembakaran sampah, semak, atau lahan selama kondisi sangat kering. Puntung rokok juga tidak boleh dibuang sembarangan di area yang memiliki banyak vegetasi kering.
Penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Climatology menunjukkan adanya hubungan antara kekeringan, El Niño, dan risiko kebakaran di wilayah Borneo Indonesia. Peneliti menekankan bahwa pemahaman terhadap risiko iklim diperlukan untuk memperkuat upaya pencegahan kebakaran.
Dengan kata lain, mencegah munculnya api jauh lebih efektif daripada menunggu kebakaran membesar.
5. Sesuaikan kegiatan pertanian dengan kondisi iklim
Petani merupakan salah satu kelompok yang paling terdampak ketika musim kemarau berlangsung lebih panjang.
Penyesuaian waktu tanam, pemilihan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kering, penggunaan irigasi secara efisien, serta pemanfaatan informasi prakiraan musim dapat membantu mengurangi risiko gagal panen.
Strategi tersebut sejalan dengan berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa pengelolaan air dan adaptasi pertanian menjadi semakin penting ketika El Niño meningkatkan risiko kekeringan.
6. Siapkan kebutuhan rumah tangga sebelum kondisi memburuk
Kesiapsiagaan tidak harus menunggu adanya pengumuman keadaan darurat.
Rumah tangga dapat membuat persediaan dasar, seperti air minum, makanan tahan lama, obat-obatan pribadi, masker, alat komunikasi, serta sumber penerangan cadangan.
Jika tinggal di daerah yang dekat dengan kawasan hutan atau lahan gambut, masyarakat juga perlu mengetahui jalur evakuasi dan nomor layanan darurat setempat apabila terjadi kebakaran.
Persiapan semacam ini penting karena El Niño dapat memberikan dampak berantai: kekeringan dapat memengaruhi air, pertanian, kesehatan, harga pangan, hingga aktivitas ekonomi.
7. Ikuti informasi resmi, bukan hanya media sosial
Salah satu kesalahan yang sering terjadi ketika menghadapi fenomena iklim adalah mengambil keputusan berdasarkan informasi yang belum terverifikasi.
Masyarakat sebaiknya mengikuti informasi dari BMKG, pemerintah daerah, BNPB, serta instansi terkait. Informasi mengenai prakiraan hujan, suhu, potensi kekeringan, kualitas udara, dan risiko kebakaran dapat membantu masyarakat menentukan aktivitas sehari-hari.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menekankan bahwa fenomena ENSO dapat diprediksi beberapa bulan sebelumnya dengan tingkat keandalan tertentu. Informasi iklim tersebut dapat dimanfaatkan oleh sektor kesehatan dan pemerintah untuk mempersiapkan diri menghadapi risiko yang mungkin muncul.
El Niño merupakan fenomena iklim alami. Dampaknya tidak selalu sama di setiap wilayah dan tidak berarti seluruh Indonesia akan mengalami kondisi yang sama.
Yang terpenting adalah memahami risiko lokal dan melakukan persiapan lebih awal. Di Indonesia, dampak yang perlu mendapat perhatian antara lain kekeringan, keterbatasan air, suhu panas, kebakaran hutan dan lahan, kualitas udara, serta gangguan produksi pertanian.
Penelitian mengenai El Niño dan kesehatan masyarakat menunjukkan bahwa kesiapsiagaan yang dilakukan sebelum dampak terjadi dapat membantu mengurangi risiko terhadap masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....