Akses Internet Terbatas Hambat Aktivitas Warga Antalisa
- 15 Jun 2026 13:46 WIB
- Fak Fak
RRI.CO.ID, Fakfak - Warga Kampung Antalisa, Distrik Karas, Kabupaten Fakfak, Papua Barat, berharap pemerintah pusat segera menghadirkan akses internet di wilayah mereka yang hingga kini masih masuk kategori blankspot. Keterbatasan jaringan telekomunikasi dinilai menghambat komunikasi masyarakat, terutama dalam situasi darurat yang membutuhkan respons cepat.
Ketua Badan Permusyawaratan Kampung (Baperkam) Antalisa, Madu Kanduak, mengatakan keberadaan tower telekomunikasi menjadi kebutuhan mendesak bagi sekitar 300 jiwa atau 76 kepala keluarga yang bermukim di kampung tersebut. Menurutnya, masyarakat selama ini kesulitan mengakses layanan komunikasi dasar akibat minimnya sinyal seluler.
"Kalau ada warga sakit atau ada keperluan mendesak untuk menghubungi keluarga di kota, kami sangat kesulitan. Kami berharap pemerintah bisa membangun tower telekomunikasi agar keterisolasian jaringan internet ini dapat teratasi," ujar Madu.
Ia menjelaskan, usulan pembangunan infrastruktur telekomunikasi sebenarnya telah disampaikan sejak 2025 melalui DPR Kabupaten Fakfak untuk dibahas dalam sidang anggaran tahun 2026. Namun hingga pertengahan tahun ini, masyarakat belum menerima kepastian maupun tindak lanjut atas usulan tersebut.
Madu berharap Menteri Komunikasi dan Digital RI, Meutya Viada Hafid, dapat mendengar aspirasi warga di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), khususnya di Indonesia Timur. Menurutnya, akses komunikasi bukan lagi sekadar kebutuhan pendukung, melainkan telah menjadi kebutuhan dasar masyarakat untuk memperoleh informasi dan pelayanan publik.
Saat ini, kata dia, warga Kampung Antalisa masih harus mencari titik-titik tertentu untuk mendapatkan sinyal Telkomsel. Tidak jarang masyarakat harus naik ke bukit bahkan memanjat pohon demi memperoleh jaringan yang cukup untuk melakukan panggilan telepon. "Kalau bergeser sedikit saja, sinyal langsung hilang. Ini menjadi kendala besar bagi kami," tuturnya.
Di sisi lain, Kementerian Komunikasi dan Digital terus mempercepat penanganan wilayah blankspot melalui pembangunan BTS dan jaringan fiber optik, pemanfaatan teknologi satelit, serta kerja sama dengan operator seluler melalui penyediaan spektrum frekuensi. Warga Kampung Antalisa berharap program tersebut dapat segera menyentuh kampung mereka agar akses informasi, komunikasi, pendidikan, hingga layanan kesehatan dapat dinikmati secara setara dengan masyarakat di wilayah lain.
Warga Kampung Antalisa, Distrik Karas, Kabupaten Fakfak, Papua Barat, berharap pemerintah pusat segera menghadirkan akses internet di wilayah mereka yang hingga kini masih masuk kategori blankspot. Keterbatasan jaringan telekomunikasi dinilai menghambat komunikasi masyarakat, terutama dalam situasi darurat yang membutuhkan respons cepat.
Ketua Badan Permusyawaratan Kampung (Baperkam) Antalisa, Madu Kanduak, mengatakan keberadaan tower telekomunikasi menjadi kebutuhan mendesak bagi sekitar 300 jiwa atau 76 kepala keluarga yang bermukim di kampung tersebut. Menurutnya, masyarakat selama ini kesulitan mengakses layanan komunikasi dasar akibat minimnya sinyal seluler.
"Kalau ada warga sakit atau ada keperluan mendesak untuk menghubungi keluarga di kota, kami sangat kesulitan. Kami berharap pemerintah bisa membangun tower telekomunikasi agar keterisolasian jaringan internet ini dapat teratasi," ujar Madu.
Ia menjelaskan, usulan pembangunan infrastruktur telekomunikasi sebenarnya telah disampaikan sejak 2025 melalui DPR Kabupaten Fakfak untuk dibahas dalam sidang anggaran tahun 2026. Namun hingga pertengahan tahun ini, masyarakat belum menerima kepastian maupun tindak lanjut atas usulan tersebut.
Madu berharap Menteri Komunikasi dan Digital RI, Meutya Viada Hafid, dapat mendengar aspirasi warga di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), khususnya di Indonesia Timur. Menurutnya, akses komunikasi bukan lagi sekadar kebutuhan pendukung, melainkan telah menjadi kebutuhan dasar masyarakat untuk memperoleh informasi dan pelayanan publik.
Saat ini, kata dia, warga Kampung Antalisa masih harus mencari titik-titik tertentu untuk mendapatkan sinyal Telkomsel. Tidak jarang masyarakat harus naik ke bukit bahkan memanjat pohon demi memperoleh jaringan yang cukup untuk melakukan panggilan telepon. "Kalau bergeser sedikit saja, sinyal langsung hilang. Ini menjadi kendala besar bagi kami," tuturnya.
Di sisi lain, Kementerian Komunikasi dan Digital terus mempercepat penanganan wilayah blankspot melalui pembangunan BTS dan jaringan fiber optik, pemanfaatan teknologi satelit, serta kerja sama dengan operator seluler melalui penyediaan spektrum frekuensi. Warga Kampung Antalisa berharap program tersebut dapat segera menyentuh kampung mereka agar akses informasi, komunikasi, pendidikan, hingga layanan kesehatan dapat dinikmati secara setara dengan masyarakat di wilayah lain.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....