Kemarau Ganggu Distribusi CPO dari Sanggau

  • 30 Sep 2026 19:21 WIB
  •  Sanggau

RRI.CO.ID, Sanggau – Musim kemarau dan menurunnya debit Sungai Kapuas mulai berdampak terhadap aktivitas industri kelapa sawit di Kabupaten Sanggau, terutama dalam pengangkutan Crude Palm Oil (CPO) menuju Pontianak. Kondisi tersebut membuat distribusi CPO yang sebelumnya menggunakan kapal tongkang harus dialihkan melalui jalur darat.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Sanggau, Kubin, mengatakan penurunan debit Sungai Kapuas membuat aktivitas pengangkutan CPO menggunakan tongkang terganggu. Kondisi itu turut memengaruhi pasokan buah dan aktivitas produksi di sejumlah pabrik kelapa sawit.

“Mudah-mudahan ini kan terpengaruh kepada musim kemarau lagi. Sepertinya bapak-bapak di pabrik agak mengurangi pasokan kepada pabrik mereka, agak mengurangi buah karena terkait dengan kebutuhan air untuk mencuci, lalu kebutuhan angkutan,” kata Kubin, Rabu 30 September 2026.

Ia menjelaskan, ketika debit Sungai Kapuas menurun, pengangkutan CPO dari pabrik di Sanggau menuju tempat penampungan di Pontianak harus dilakukan menggunakan mobil tangki melalui jalur darat. Peralihan moda angkutan tersebut membuat kebutuhan kendaraan meningkat dan distribusi menjadi lebih kompleks.

“Ketika air Kapuas agak menurun, mereka mengangkut CPO, produksi pabrik mereka dengan tangki-tangki yang melalui jalan darat. Nah, perbandingan satu tongkang itu bisa memuat sampai 50 tangki,” ujarnya.

Menurut Kubin, kapasitas satu kapal tongkang yang setara dengan sekitar 50 mobil tangki menunjukkan besarnya dampak ketika jalur sungai tidak dapat dilalui. Jika tongkang tidak dapat beroperasi, puluhan kendaraan tangki harus menempuh perjalanan dari pabrik di Sanggau menuju tangki timbun di Pontianak.

“Artinya kalau satu tongkang tidak bisa melewati Sungai Kapuas ini, ada 50 unit mobil CPO, mobil tangki yang harus berangkat dari pabrik di Sanggau ini ke Pontianak untuk tangki timbun di sana. Nah, ini sangat merepotkan sekali sehingga mereka mau tidak mau agak mengurangi,” jelasnya.

Ia menilai, kondisi tersebut berkaitan dengan siklus musim kemarau yang berdampak terhadap ketersediaan air dan kelancaran distribusi komoditas. Ia menyebut, kondisi ini menjadi pengingat bagi pemerintah dan pelaku usaha untuk menyiapkan langkah antisipasi menghadapi periode kemarau yang berpotensi memengaruhi aktivitas produksi dan distribusi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....