Ritual Adat Berbantan, Tradisi Suku Dayak untuk Minta Hujan
- 04 Sep 2026 20:33 WIB
- Sanggau
RRI.CO.ID, Sanggau - Ritual adat Berbantan dilakukan masyarakat adat Dayak Hibun dan Pemerintah Kabupaten Sanggau sebagai bagian dari kearifan lokal untuk memohon turunnya hujan. Praktisi Adat Dayak Hibun, Marsianus Ludopikus Markus Mahidin Pundong mengatakan ritual adat Berbantan merupakan tradisi yang dilakukan dengan doa dan niat.
“Tujuan ini tadi sudah dibilang nyuruh hari hujan. Ini sambil bepomang (berdoa-red), sambil berniat, sambil berbantan,” ujar Marsianus Ludopikus Markus Mahidin Pundong di Rumah Betang Raya Dori Mpulor, Desa Sungai Mawang, Kecamatan Kapuas pada Jumat, 4 September 2026.
Marsianus menjelaskan, ritual tersebut dilakukan dengan melibatkan unsur-unsur adat sesuai ketentuan yang diwariskan leluhur. Ia menyebut pelaksanaan ritual juga menggunakan sejumlah perlengkapan adat sebagai bagian dari proses berbantan.
“Ini namanya Bantan Dohik, Bantan Gunung ya, karena ini di rumah. Semua leluhur yang meninggal tadi dipanggil semua,” katanya.
Menurutnya, ritual tersebut merupakan bentuk permohonan kepada leluhur agar hujan turun dan kemarau segera berakhir. Ia berharap hujan dapat membantu mengurangi risiko penyakit, bahaya kebakaran, dan dampak karhutla.
“Seperti ini kan kita minta hujan, kemarau ini dihentikan, jadi hujan. Tadi sudah saya minta 3 hari 3 malam hujan untuk memotong tikungan Tanjung Teluk dan itu Sungai Penuri,” ucapnya.
Ia mengatakan, pelaksanaan Berbantan merupakan bagian dari kearifan lokal yang telah dilakukan masyarakat sejak dahulu. Menurutnya, ritual tersebut menjadi cara masyarakat adat menyampaikan permohonan dengan tetap menjaga nilai-nilai adat.
“Ini pasti hujan, pasti hujan, karena ditanya dengan Raja di awan-awan tadi kan memang ada hujan. Selain itu juga, untuk menghindari segala penyakit, segala bahaya lain, segala api, kebakaran hutan dan lahan,” tutupnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....