Peserta MTQ Kaligrafi Ini Ungkap Cara Atasi Gugup saat Lomba 8 Jam

  • 20 Agt 2026 21:17 WIB
  •  Entikong

RRI.CO.ID, Sanggau - Berada di arena perlombaan selama delapan jam dengan membawa nama daerah menjadi tantangan tersendiri bagi peserta kaligrafi. Peraih juara ketiga cabang kaligrafi hiasan mushaf putri MTQ tingkat Provinsi Kalimantan Barat 2026, Sri Arwana, mengaku sempat mengalami tekanan sebelum akhirnya mampu mengembalikan fokus pada karya yang dikerjakannya.

Sri Arwana, Peserta MTQ sekaligus guru kaligrafi di Pesantren Baitul Quran asal Kabupaten Sambas mengatakan, tekanan muncul karena setiap peserta ingin memberikan hasil terbaik bagi daerah yang diwakilinya. Kondisi tersebut membuat kesiapan mental menjadi bagian penting selain kemampuan teknis dalam menyelesaikan karya.

“Selama proses penyisihan itu kalau peserta pasti kita agak pressure karena kita membawa nama daerah kita, terus juga kita punya tanggung jawab sebagai peserta pengen menampilkan yang terbaik. Pentingnya latihan itu di situ, jadi pada saat lomba kita nggak terlalu gaguk, nggak terlalu tremor,” ujar Arwana dalam Obrolan Sore Ceria RRI Pro 2 Sanggau, Kamis, 20 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, tekanan juga dapat muncul ketika peserta melihat kemampuan lawan yang sama-sama menjadi perwakilan terbaik dari daerah masing-masing. Namun, menurutnya, rasa gugup tersebut tidak perlu dibiarkan mengganggu proses pengerjaan hingga membuat konsentrasi terpecah.

“Pada saat datang ke arena kita melihat teman-teman yang lain agak sedikit tekanan di dalam diri, terutama mental, di awal-awal memang agak sedikit goyah, agak down. Tapi itu kayaknya cuma 15 menit pertama, setelah itu kita akan fokus sama apa yang kita kerjain,” katanya.

Menurut Sri, kemampuan menjaga fokus juga berkaitan dengan kesiapan menghadapi durasi perlombaan. Cabang kaligrafi hiasan mushaf memberikan waktu delapan jam kepada peserta untuk menyelesaikan karya, sehingga konsentrasi harus dipertahankan selama proses pengerjaan.

Ia menambahkan, pengalaman mengikuti perlombaan selama sekitar 13 tahun turut membantunya menghadapi tekanan di arena. Pengalaman tersebut membuatnya memahami bahwa hasil akhir tidak sepenuhnya dapat dipastikan, sehingga peserta perlu memusatkan perhatian pada usaha yang dapat dilakukan.

“Kalau untuk juara apa nggaknya, ya kita serahkan kepada juri yang menilai, tapi sebagai peserta ya kita tentu berharap juara. Untuk ekspektasi juara apa nggaknya, nggak bisa kita tentukan sendiri, jadi memang meminimalisir sakit hati,” tutupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....