Kualitas Udara Sanggau Berstatus Sedang, DLH Waspadai Dampak Kemarau Panjang
- 10 Agt 2026 21:19 WIB
- Entikong
RRI.CO.ID, Entikong - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sanggau menyatakan kualitas udara di wilayah Kabupaten Sanggau saat ini masih berada pada kategori Sedang berdasarkan data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Meski belum masuk kategori Tidak Sehat, pemerintah daerah mewaspadai potensi penurunan kualitas udara seiring meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan pada musim kemarau panjang.
Kepala Bidang Pengelolaan Lingkungan Hidup DLH Kabupaten Sanggau, Yesaya Poulorossi P. Antang Obob mengatakan, penilaian tersebut mengacu pada data Air Quality Monitoring System (AQMS) terdekat yang saat ini masih menggunakan stasiun pemantauan di Sekadau Hilir. Berdasarkan data tersebut, parameter PM 2,5 menunjukkan indeks 55 yang menempatkan kualitas udara pada kategori Sedang.
“Menurut data ISPU yang kami ambil dari stasiun AQMS terdekat, sementara kami menggunakan AQMS Sekadau Hilir. Hasilnya menunjukkan kualitas udara pada parameter PM 2,5 berada di kategori Sedang dengan indeks 55,” kata Obob, Senin, 10 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, kualitas udara secara nasional dibagi ke dalam lima kategori, yakni Baik, Sedang, Tidak Sehat, Sangat Tidak Sehat, dan Berbahaya. Posisi Kabupaten Sanggau saat ini berada satu tingkat di atas kategori Baik yang umumnya terjadi pada musim penghujan.
“Berdasarkan data ISPU Kementerian Lingkungan Hidup, saat ini kita berada pada level Sedang. Biasanya pada musim penghujan kualitas udara berada di kategori Baik, sedangkan sekarang sudah naik ke level Sedang,” ujarnya.
DLH juga mencermati perkembangan titik panas atau hotspot yang terpantau melalui sistem SiPongi milik Kementerian Kehutanan. Tren tersebut dinilai menjadi indikator penting untuk memprediksi kemungkinan memburuknya kualitas udara dalam beberapa waktu mendatang.
“Kami melihat dari data tren hotspot di SiPongi ada kemungkinan kualitas udara mengalami penurunan. Mengingat saat ini kita memasuki kemarau panjang, potensi peningkatan titik panas tetap harus diwaspadai,” tegas Obob.
Menurutnya, kategori Tidak Sehat umumnya mulai terjadi ketika indeks kualitas udara mendekati angka 88 hingga 100. Karena itu, DLH akan terus melakukan pemantauan dan mengimbau masyarakat untuk tetap memperhatikan kondisi lingkungan serta perkembangan informasi kualitas udara yang dikeluarkan pemerintah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....