Ramadan Momentum Uji Ketakwaan, Ringan Tangan dan Tahan Amarah

  • 04 Mar 2026 13:37 WIB
  •  Entikong

RRRI.CO.ID, Entikong – Ramadan kembali menjadi panggung pembinaan karakter umat Islam di seluruh Tanah Air. Bukan sekadar ritual tahunan, bulan suci ini dimaknai sebagai momentum strategis untuk memperkuat ketakwaan, menajamkan kepedulian sosial, serta melatih pengendalian diri di tengah dinamika kehidupan modern.

Hal tersebut disampaikan Ustaz asal Pontianak, Doddy Castaria Rahayu, dalam program Obrolan Teladan di RRI Sanggau, Selasa 3 Maret 2026. Ia mengungkap, indikator utama ketakwaan tidak hanya tercermin dari intensitas ibadah personal, tetapi juga dari sikap sosial yang ringan tangan dalam memberi dan gemar berbagi.

“Ciri orang bertakwa itu ringan tangannya dalam memberi, bukan menunggu kaya terlebih dahulu untuk berbagi dan bukan pula menunggu berada dalam kesulitan untuk bersedekah. Orang yang benar-benar bertakwa memahami bahwa berbagi adalah bentuk rasa syukur atas nikmat Allah,” jelas Doddy.

Menurutnya, Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk menanamkan kesadaran bahwa berbagi tidak harus menunggu berlebih, ketakwaan, berangkat dari niat tulus dan hati yang ikhlas dalam kondisi lapang maupun sempit. Prinsip tersebut selaras dengan pesan dalam Al-Qur'an, khususnya Surah Ali Imran ayat 134, yang menggambarkan karakter orang bertakwa sebagai mereka yang gemar bersedekah, mampu menahan amarah, dan memaafkan kesalahan orang lain.

Doddy menjelaskan, ketakwaan bukan hanya soal hubungan vertikal kepada Allah SWT, tetapi juga tercermin dalam hubungan horizontal dengan sesama manusia. Kemampuan menahan emosi dan tidak mudah tersulut amarah menjadi bagian penting dari pembentukan pribadi yang matang secara spiritual.

“Dalam Surah Ali Imran disebutkan tentang orang-orang yang menahan amarahnya. Nabi juga menjelaskan bahwa orang kuat itu bukan yang jago berkelahi, tetapi yang mampu menahan amarahnya,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa puasa adalah latihan komprehensif untuk mengendalikan diri. Bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan lisan, sikap, serta respons berlebihan terhadap situasi yang memancing emosi.

“Puasa itu latihan untuk mengontrol diri supaya tidak mudah marah dan tidak reaktif. Puasa mengajarkan kita untuk menahan, bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan lisan, sikap, dan reaksi yang berlebihan,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....