Tantangan Imunisasi Anak Ditengah Mobilitas Pekerja Perbatasan

  • 03 Okt 2026 20:06 WIB
  •  Sanggau

RRI.CO.ID, Sanggau - Tingginya mobilitas pekerja yang datang dan pergi di wilayah Entikong membuat sebagian warga harus pindah tugas sebelum hari pelaksanaan imunisasi tiba. Petugas kesehatan di perbatasan mengimbau masyarakat untuk segera melapor atau memanfaatkan layanan jemput bola agar anak-anak tetap mendapatkan hak imunisasi lengkap meski berpindah domisili.

Hal tersebut disampaikan Mikael Kuniawan, Tenaga Promosi Kesehatan Ilmu Perilaku Puskesmas Entikong dalam Dialog Beranda Asta Cita RRI PRO1 Sanggau, Sabtu 3 Oktober 2026. Menurutnya, banyak anak di perbatasan hanya tinggal selama satu hingga dua bulan sebelum akhirnya harus berpindah tempat mengikuti mobilitas orang tua mereka.

" Mobilitas yang berpengaruh ini diantaranya adalah ada banuak sekali anak-anak di wilayah perbatasan kita itu yang sebenarnya mobile, jadi, mereka ini hanya tinggal 1 hingga 2 bulan di wilayah Entikong kemudian berpindah," ungkapnya.

Mikael menjelaskan, pekerja yang datang dan pergi di wilayah Entikong mendaftarkan anak mereka ke Posyandu terdekat saat tinggal sementara. Akibat kepindahan yang cepat, data administrasi kependudukan dan kesehatan anak-anak tersebut sering kali tertinggal sehingga menyulitkan proses pemantauan imunisasi lanjutan secara berkesinambungan.

"Karena kita ketahui juga tidak sedikit pekerja yang memang datang dan pergi di wilayah Entikong ini, sehingga mereka membawa anaknya, membawa keluarganya ke wilayah Entikong kemudian didaftarkan ke Posyandu terdekat begitu mereka pindah datanya masih tertinggal nih," jelasnya.

Ia menambahkan, kondisi tersebut menyebabkan anak-anak yang semula menjadi sasaran imunisasi akhirnya tidak masuk dalam cakupan layanan kesehatan. Hal itu membuat data instansi seolah menunjukkan banyak peserta belum terlayani, padahal mereka sebenarnya adalah pekerja migran yang bersifat sementara.

"Sehingga sasaran imunisasi kita yang seharusnya mereka menjadi sasaran kita, ujung - ujungnya mereka tidak masuk ke dalam cakupan lagi dan ini membuat memang data kita menjadi seolah-olah banyak sekali peserta imunisasi yang belum dilayani imunisasinya, padahal mereka ini adalah pekerja yang mobile yang hanya datang sementara," katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....