Efek Negatif Memijat Tubuh ketika Letih

  • 15 Agt 2026 15:24 WIB
  •  Entikong

RRI.CO.ID, Sanggau - Tradisi memijat atau mengurut tubuh kerap menjadi solusi utama masyarakat saat merasakan pegal dan kelelahan. sensasi rileks yang didapatkan setelah pijatan memang memberikan kenyamanan sesaat karena memperlancar sirkulasi darah dan meredakan ketegangan otot. Namun, menjadikan pijat sebagai jalan keluar rutin setiap kali badan terasa capek menyimpan berbagai efek negatif yang justru bisa membahayakan kesehatan dalam jangka panjang.

Salah satu dampak negatif yang paling sering terjadi akibat terlalu sering dipijat adalah risiko mikrotrauma atau cedera mikroskopis pada jaringan otot. Tekanan fisik yang diberikan secara terus-menerus, terutama dengan penekanan yang terlalu kuat, dapat menyebabkan peradangan lokal pada serat otot. Bukannya membaik, otot yang mengalami peradangan kronis justru akan terasa makin kaku, memar, dan berisiko mengalami pembentukan jaringan parut yang mengurangi kelenturannya.

Kebiasaan selalu diurut juga dapat menyamarkan gejala dari penyakit atau kondisi medis yang jauh lebih serius. Rasa capek yang tak kunjung hilang bisa jadi merupakan sinyal tubuh atas masalah kesehatan mendasar, seperti anemia, gangguan tiroid, defisiensi vitamin, atau sindrom kelelahan kronis. Ketika seseorang secara terus-menerus mengandalkan pijat untuk mengobati rasa lelah tersebut, diagnosis medis yang tepat justru terabaikan dan penanganannya berisiko terlambat.

Selain dampak pada otot dan diagnosis medis, pijat yang terlalu sering dan kencang berpotensi memicu timbulnya hematoma atau pembekuan darah di bawah kulit. Tekanan berlebih pada area tertentu dapat merusak pembuluh darah kapiler hingga pecah. Pada kasus yang lebih ekstrem, pijatan kasar pada area rentan seperti leher atau paha dapat menggeser gumpalan darah (thrombus) yang kemudian mengalir ke organ vital seperti paru-paru atau otak.

Secara psikologis dan fisiologis, kebiasaan ini juga menciptakan efek ketergantungan serta penurunan ambang batas toleransi nyeri (pain tolerance). Tubuh dan pikiran menjadi terbiasa dengan rangsangan sensori luar untuk merasa nyaman. Akibatnya, mekanisme alami tubuh dalam memulihkan rasa lelah secara mandiri akan melemah, sehingga seseorang merasa harus selalu dipijat agar badannya bisa kembali terasa segar.

Pengurutan yang dilakukan secara asal-asalan tanpa memahami anatomi tubuh juga berisiko merusak struktur saraf dan sendi. Penekanan yang salah pada jalur saraf perifer dapat menyebabkan sensasi kesemutan, kebas, hingga rasa nyeri menjalar yang menetap. Begitu pula dengan manipulasi sendi yang terlalu keras, yang dalam jangka panjang bisa memicu ketidakstabilan sendi dan meningkatkan risiko peradangan sendi (osteoartritis).

Oleh karena itu, penting untuk mengubah pola pikir bahwa pijat adalah satu-satunya penawar rasa capek. Cara terbaik untuk mengatasi kelelahan tubuh adalah dengan mengistirahatkan tubuh secara alami melalui tidur yang cukup, memenuhi hidrasi, menjaga nutrisi seimbang, serta melakukan peregangan ringan. Pijat sebaiknya hanya dijadikan sebagai sarana relaksasi sesekali, bukan sebagai kebutuhan rutin yang diandalkan setiap kali tubuh merasa lelah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....