Banjir, Bencana Rutin yang Merendam Batas Negeri

  • 05 Mei 2025 13:41 WIB
  •  Entikong

KBRN, Entikong: Jalan lintas negara di Kabupaten Sanggau, hari itu lumpuh. Kendaraan dari dan menuju Malaysia tak bisa bergerak. Banjir terparah dalam sepuluh tahun terakhir, memupus asa ribuan masyarakat batas negeri. Bukan sekali ini saja banjir merendam wilayah batas negeri di Kabupaten Sanggau. Dalam tahun 2025 ini, sudah 4 kali banjir besar melanda.

Kerugian yang ditimbulkan akibat banjir tidak sedikit. Para penumpang bis antar nagara tertahan berhari-hari di PLBN Entikong. Salah seorang penumpang bis lintas negara, Arifin mengatakan, perjalanannya terhenti di Entikong, karena Banjir.

“Sampai di sini, kami diarakan untuk menunggu di pasar Antikong ini Sampai air sulut dan komfirmasi dari pihak Damri,” kata Arifin.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sanggau mencatat, dalam tahun 2025 ini sudah empat kali banjir besar merendam. Sebanyak 33.477 jiwa di 21 desa pada 8 kecamatan terdampak banjir dengan ketinggian mencapai empat meter.

Lantas, apa yang menjadi pemicu banjir ini? Pemerintah Kabupaten Sanggau dalam setiap pernyataannya menyampaikan, banjir terjadi karena luapan air Sungai Sekayam dan Sungai Kapuas akibat hujan yang mengguyur dari hulu. Tapi betulkah luapan kedua sungai tersebut yang menjadi musabab banjir?

Ketua Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalimantan Barat, Hendrikus Adam menilai, luapan air kedua sungai ini hanya imbas kecil dari persoalan-persoalan besar yang tidak terurai selama bertahun-tahun. Kurangnya daerah resapan air, pendangkalan sungai, serta penggundulan hutan yang masif menjadi sumber utama masalah banjir di Kabupaten Sanggau, bahkan Kalimantan Barat.

“Hujan sebetulnya hanya pemicu saja dari bencana ekologis banjir yang terjadi. Tetapi pengrusakan alam yang berlangsung sangat lama menurut kita menjadi penyebab utama,” ungkap Hendrikus Adam.

Dari catatan Walhi Kalimantan Barat, sejak tahun 2000 sampai 2025 ini, alih fungsi lahan perkebunan sawit di Kalimantan Barat mencapai lebih dari 2 juta hektare. Dari jumlah itu, 317.000 hektare diantaranya berada di Kabupaten Sanggau yang menempatkan kabupaten ini berada pada posisi kedua wilayah deforestasi terbesar di Kalimantan Barat. Tak heran, banjir menjadi tamu rutin setiap hujan turun.

Data Walhi ini juga sejalan dengan catatan Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Sanggau. Sampai tahun 2025 ini setidaknya ada 21 ijin usaha perkebunan sawit yang diterbitkan di Kabupaten Sanggau. Izin usaha Perkebunan sawit ini, tersebar 14 kecamatan termasuk di wilayah Perbatasan Negara yang menjadi daerah penyangga air bagi Kabupaten Sanggau.

Pemerintah Kabupaten Sanggau sudah melakukan Upaya penanganan, diantaranya dengan memberi bantuan bagi masyarakat terdampak, hingga memberdayakan masyarakat adat untuk menjaga hutan serta daerah penyangga air. Bupati Sanggau, Yohanes Ontot menuturkan, langkah ini juga diperkuat dengan pemasangan rambu peringatan dititik rawan banjir.

“Pemerintah Daerah sudah melakukan beberapa peringatan agar masyarakat di Sanggau tidak merusak alam. Lalu tidak membinasakan pohon-pohon yang ada di sepanjang sungai. Kita melarang juga masyarakat berladang di daerah-daerah yang memang berpotensi banjir bandang,” ucap Bupati Sanggau, Yohanes Ontot.

Siklus banjir tahunan yang berubah menjadi bulanan di Kabupaten Sanggau, tentu bukan fenomena alam biasa. Pengamat Lingkungan, Universitas Tanjungpura Pontianak, Thadeus Yus mengatakan, perubahan bentang alam di Kabupaten Sanggau, menyebabkan tanah tidak bisa menyerap air seperti semula. Salah satu faktor penyebabnya adalah alih fungsi lahan hutan menjadi perkebunan sawit.

“Kita jangan mengeluh banjir segala macam tapi cari hulunya, penyebab banjir itu apa, yaitu salah satunya karena adanya perubahan bentang alam itu, nah itu juga karena kebijakan pemerintah karena memberikan izin tanpa pengawasan, mungkin tanpa perhitungan hanya melihat dari aspek ekonomi. Karena lingkungan itu dipulihkan ke fungsinya,” tuturnya.

Hujan yang dulunya menjadi melodi alam menenangkan, kini seperti dentuman yang mencemaskan. Riak sungai yang mestinya menjadi sahabat peradaban manusia, sekarang berubah seperti lawan. Banjir bukan tidak mungkin menjadi tamu rutin bagi Kabupaten Sanggau, jika tidak ada solusi konkret yang ditegakkan para pemangku kebijakan.


Rekomendasi Berita