Pipil Jagung untuk Swasembada Pangan
- 16 Sep 2025 14:33 WIB
- Entikong
KBRN, Entikong: Swasembada pangan jadi program utama presiden Prabowo Subianto melalui Asta-Citanya. Seluruh daya dimaksimalkan untuk mencapai target Indonesia berdaulat dari sisi pangan.
Di perbatasan Kabupaten Sanggau, polisi menggandeng berbagai pihak untuk mewujudkan program kepala negara tersebut melalui pengembangan budidaya jagung. Kapolsek Sekayam, AKP Sutikno menyampaikan, langkah yang telah dilakukan polri ini diharapkan dapat diikuti oleh petani di perbatasan.
“Semoga semua desa-desa mengikuti langkah yang dilakukan oleh Polsek maupun BPP ini, supaya meningkatkan pangan kita yang merupakan program bapak Presiden,” kata Kapolsek Sekayam, AKP Sutikno, Selasa (16/9/2025).
Mewujudkan swasembada pangan melalui pengembangan budidaya jagung ini, bukan tanpa tantangan. Yohanes Purwanto, petani jagung di Sekayam mengungkapkan, salah satu tantangan terbesar adalah soal pemasaran dan teknik budidaya.
“Kalau tantangan petani yang pertama modal, yang kedua mungkin pemasaran, kemana mau dijual. Jadi, petani itu tidak gamang, tidak ragu-ragu. Untuk awal-awal ini sih bagus pemasaran dibanding dulu. Cuman ini belum tahu kelanjutannya bagaimana, istilahnya masih banyak kabar ke kabar, harusnya petani diberikan edukasi cara penanaman, bagaimana cara perawatan, sehingga jagung ini bisa maksimal,” ujarnya.
Betulkah teknik budidaya jadi tantangan pengembangan jagung di perbatasan? Kami menemui salah seorang penyuluh pertanian dari balai penyuluh pertanian Sekayam, Nikodemus Rano. Menurutnya, kondisi geografis Sekayam sangat mendukung untuk pengembangan budidaya jagung. Hanya saja, teknik dan bibit yang digunakan harus disesuaikan dengan geografis yang ada.
“Budidaya jagung hibrida yang kita lakukan selama ini, cukup mendukung di Kecamatan Sekayam ada di Desa Kenaman. Itu kita selalu lakukan dengan pengeolahan tanah. Pengolahan tanah itu penting sekali dan perlu kita lakukan dengan pemupukan, yang tidak kalah penting juga kita pilih varietas bibit unggul yang cukup mendukung. Salah satu yang kita gunakan adalah varietas pioner. Itu sangat mendukung untuk keberhasilan hasil tanaman kita. Yang perlu kita ingatkan kembali pengolaan tanah itu perlu, karena metabolisme dalam tanah itu sangat membantu kesuburan tanah kita,” ucap Nikodemus.
Sekata dengan penyuluhnya, Kepala Balai Penyuluh Pertanian Sekayam, Ngateman menuturkan, perbatasan sangat potensial untuk menjadi salah satu lokasi pengembangan tanaman jagung. Dia berbicara begitu bukan tanpa bukti. Faktanya, polisi di sekayam telah berhasil melampui prediksi target jagung yang dipanen sebanyak 12,5 ton perhektare.
Meskipun angka 12,5 ton jagung itu bakal mengalami penyusutan setelah kering, namun Ngateman yakin, petani tidak akan merugi. Sebab, jagung yang siap dipasarkan setelah dipipil diperkirakan masih sekitar 7,5 ton dengan estimasi harga jual mencapai 50 juta rupiah.
“Luar biasa sekali. Ini mungkin terobosan pertama kalinya kita menanam jagung bisa menghasilkan seperti ini. Dari ubinan, baik itu penyuluh maupun dari petani sendiri sekitar 12,5 ton per hektare. Kalau kita hitung-hitung komersil atau bisnis sangat menjanjikan. Sekarang ini jagung hibrida di seluruh Kalbar kosong,” ucap Ngateman.
Lantas, siapakah yang akan membeli jagung sebanyak itu dari para petani perbatasan? Kami mencoba bertanya ke salah satu toko pakan ternak di Sekayam, Karya Tani. Pemilik toko Karya Tani, Rahmat Riadi mengaku, pihaknya siap membeli jagung dari petani.
“Untuk kita ngambil sekarang sih di harga Rp6.000, kalau kadar airnya agak lembab kita berani ambil di harga Rp5.500 tapi kalau dia kering kita bisa ambil di angka Rp6.000. Kita kan bansi lembab sama kering tu kan beda. Karena terlalu berat kalau lembab, kalau kering agak ringan,” ungkapnya.
Jagung, bukan hanya sekadar alternatif bahan makanan pokok. Tapi juga sumber kehidupan bagi petani, pakan ternak yang krusial, dan bahkan energi masa depan.
Jagung telah menjadi simbol ketahanan. Ketika beras mahal, jagung hadir sebagai alternatif. Ketika petani butuh penghasilan, jagung jadi sumber harapan. Dari jagung, semua bisa berkata swasembada pangan bukan hanya mimpi, jika kita percaya pada kekuatan tanah dan tangan petani.