Kabut Asap Karhutla Berisiko Ganggu Kesehatan Otak

  • 21 Agt 2026 21:22 WIB
  •  Entikong

RRI.CO.ID, Sanggau - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan atau karhutla yang saat ini terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Barat tidak hanya mengancam kesehatan pernapasan, tetapi juga perlu diwaspadai karena berpotensi memengaruhi kesehatan otak. Kondisi kualitas udara yang memburuk membuat masyarakat perlu mengurangi paparan asap, terutama ketika konsentrasi partikel halus meningkat.

Berdasarkan berbagai penelitian, partikel halus atau PM2,5 yang terdapat dalam asap kebakaran dapat memberikan dampak terhadap sistem saraf. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyebut PM2,5 dari asap kebakaran dapat memengaruhi otak dan sistem saraf serta dikaitkan dengan gangguan fungsi kognitif dan memori.

Penelitian mengenai asap kebakaran juga menunjukkan adanya mekanisme biologis yang memungkinkan partikel dan senyawa berbahaya memengaruhi sistem saraf melalui peradangan serta stres oksidatif. Kajian terbaru pada 2026 menemukan adanya indikasi proses peradangan saraf dan potensi neurotoksisitas akibat paparan partikulat dari asap kebakaran, meskipun penelitian lebih lanjut pada manusia masih diperlukan.

Paparan asap dalam kondisi kualitas udara buruk dapat membuat masyarakat mengalami sejumlah keluhan, seperti sakit kepala, mudah lelah, sulit berkonsentrasi, dan gangguan tidur. Keluhan tersebut perlu diperhatikan, terutama apabila paparan terjadi berulang dan dalam waktu yang cukup lama.

Kondisi ini menjadi semakin penting diperhatikan masyarakat Kalimantan Barat karena asap karhutla dapat bertahan di udara dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Pada 20 Agustus 2026, data yang dikutip dari badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB) menunjukkan Kalimantan Barat memiliki 560 titik panas, sementara kualitas udara di sejumlah wilayah juga mengalami penurunan.

Kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat dengan penyakit tertentu perlu mendapatkan perlindungan lebih ketika kualitas udara memburuk. Masyarakat juga disarankan membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika asap terlihat pekat atau informasi kualitas udara menunjukkan kondisi tidak sehat.

Penggunaan masker yang sesuai, mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan, menutup sumber masuknya asap ke dalam rumah, serta memantau informasi kualitas udara dari sumber resmi menjadi langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi paparan. Masyarakat juga perlu menghindari aktivitas yang menghasilkan asap tambahan, termasuk pembakaran sampah di lingkungan permukiman.

Kondisi kabut asap akibat karhutla menjadi pengingat bahwa perlindungan kesehatan tidak hanya berfokus pada paru-paru, tetapi juga perlu memperhatikan kesehatan otak dan sistem saraf. Dengan mengurangi paparan asap serta mencegah terjadinya karhutla, masyarakat dapat membantu menekan risiko kesehatan sekaligus menjaga kualitas lingkungan bagi generasi mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....