Risiko Mengonsumsi Air yang Tercemar Merkuri

  • 18 Agt 2026 14:59 WIB
  •  Entikong

RRI.CO.ID, Sanggau - Pencemaran merkuri pada sumber air merupakan salah satu ancaman lingkungan dan kesehatan paling serius yang kerap dipicu oleh aktivitas pertambangan emas skala kecil serta pembuangan limbah industri yang tidak terkelola dengan baik. Merkuri atau raksa adalah logam berat berbahaya yang bersifat toksik dan tidak dapat diuraikan secara alami di dalam ekosistem. Ketika zat kimia ini masuk ke dalam badan air seperti sungai, danau, atau air tanah, kualitas air akan menurun secara drastis dan membahayakan siapa saja.

Dampak buruk pertama muncul ketika air yang tercemar merkuri dikonsumsi secara langsung sebagai air minum atau digunakan untuk mengolah makanan. Saat tertelan, senyawa merkuri—terutama dalam bentuk metilmerkuri—akan diserap dengan sangat cepat oleh saluran pencernaan dan masuk ke dalam aliran darah. Karena sifatnya yang mudah terakumulasi di dalam jaringan tubuh (bioakumulasi), racun ini akan terus menumpuk seiring berjalannya waktu dan memicu kerusakan sistemik pada organ-organ vital.

Kerusakan pada sistem saraf pusat dan otak merupakan konsekuensi paling berbahaya akibat konsumsi racun merkuri dalam jangka panjang. Logam berat ini memiliki kemampuan untuk menembus sawar darah-otak dan merusak sel-sel saraf secara permanen. Akibatnya, penderita dapat mengalami berbagai gejala neurologis berat, seperti mati rasa pada anggota badan, gemetar (tremor), gangguan koordinasi gerak, penurunan daya ingat, hingga kerusakan fungsi penglihatan dan pendengaran yang mirip dengan fenomena penyakit Minamata.

Selain menyerang sistem saraf, paparan oral terhadap air tercemar merkuri juga berdampak fatal bagi kesehatan organ dalam, terutama ginjal dan saluran pencernaan. Ginjal berfungsi sebagai penyaring utama racun di dalam tubuh, sehingga akumulasi merkuri di organ ini dapat menyebabkan kerusakan jaringan ginjal akut hingga gagal ginjal kronis. Di saat yang sama, sifat korosif dari senyawa merkuri juga dapat mengiritasi dinding lambung dan usus, memicu rasa nyeri hebat, mual, muntah, hingga pendarahan internal.

Bahaya pencemaran ini tidak hanya terjadi dari dalam tubuh melalui konsumsi, tetapi juga dari luar saat air tersebut digunakan untuk mandi. Paparan air yang mengandung merkuri secara langsung pada kulit dapat menyebabkan penyerapan dermal, di mana zat beracun tersebut menembus pori-pori kulit dan masuk ke pembuluh darah. Penggunaan air tercemar untuk mandi secara rutin dapat memicu iritasi kulit parah, ruam kemerahan, rasa terbakar, dermatitis kontak, serta merusak lapisan pelindung alami kulit.

Kelompok rentan seperti wanita hamil, janin, dan anak-anak berada pada risiko yang paling mengkhawatirkan jika terpapar air tercemar merkuri, baik saat diminum maupun digunakan untuk mandi. Merkuri yang masuk ke dalam tubuh ibu hamil dapat menembus plasenta dan mengganggu perkembangan otak serta sistem saraf janin yang sedang tumbuh. Kondisi ini berpotensi besar menyebabkan cacat lahir, keterlambatan perkembangan fisik dan kognitif, hingga kelumpuhan otak (cerebral palsy) pada bayi saat dilahirkan.

Penggunaan air yang tercemar merkuri baik untuk dikonsumsi maupun mandi membawa dampak kesehatan yang sangat mematikan dan bersifat jangka panjang. Oleh karena itu, kesadaran masyarakat untuk tidak menggunakan sumber air yang terindikasi tercemar serta pengawasan ketat terhadap pembuangan limbah berbahan berbahaya sangat mutlak diperlukan. Apabila seseorang menunjukkan gejala keracunan atau dicurigai pernah terpapar air tercemar merkuri, pemeriksaan medis secara menyeluruh harus segera dilakukan untuk mencegah kerusakan organ yang lebih parah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....