Hindari Ghibah, Rawat Lisan dan Jaga Kehormatan Sesama
- 21 Jul 2026 07:52 WIB
- Entikong
RRI.CO.ID, Entikong - Maraknya kebiasaan membicarakan kekurangan fisik maupun membuka aib orang lain, baik dalam pergaulan sehari-hari maupun melalui media sosial, dinilai menjadi salah satu perilaku yang dapat merusak kehormatan sesama serta melemahkan persaudaraan di tengah masyarakat. Padahal, Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga lisan, menghormati sesama, dan tidak menjadikan keburukan orang lain sebagai bahan pembicaraan.
Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Mukok, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sanggau, Sri Rahayu, mengatakan bahwa ghibah atau membicarakan keburukan seseorang di belakangnya merupakan perbuatan yang dilarang dalam ajaran Islam. Menurutnya, larangan tersebut juga mencakup mengejek kekurangan fisik maupun mengungkap aib orang lain karena dapat melukai perasaan, merusak kehormatan, dan melemahkan persaudaraan.
"Ghibah tidak hanya membicarakan keburukan seseorang, tetapi juga memperolok fisik dan membuka aib yang dapat melukai hati serta merusak persaudaraan," ungkap Sri Rahayu dalam Obrolan Mutiara Pagi RRI Sanggau, Selasa 21 Juli 2026.
Ia menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan yang seharusnya dijaga, bukan dijadikan bahan olok-olok ataupun konsumsi publik. Menjaga kehormatan orang lain merupakan bagian dari akhlak mulia yang diperintahkan dalam Islam.
Menurut Sri menjaga lisan berarti membiasakan diri untuk hanya mengucapkan perkataan yang baik, bermanfaat, dan tidak menyakiti orang lain. Apabila tidak ada kebaikan yang dapat disampaikan, maka diam menjadi pilihan yang lebih utama daripada mengucapkan sesuatu yang berpotensi menimbulkan dosa.
"Jangan biasakan lisan kita sibuk membicarakan keburukan orang lain, lebih baik gunakan waktu untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal kebaikan, dan mendoakan saudara kita agar diberikan petunjuk serta kebaikan," katanya.
| Baca juga: Bijak Bermedsos, Jauhi Dosa |
Ia mengungkapkan, menjaga kehormatan sesama juga dapat dilakukan dengan tidak menyebarkan aib, tidak mempermalukan orang lain, tidak mengejek kondisi fisik, serta memberikan nasihat secara baik apabila melihat adanya kekeliruan. Sikap tersebut akan menciptakan rasa saling menghargai, memperkuat persaudaraan, dan menghadirkan suasana yang harmonis di lingkungan masyarakat.
Di era digital, lanjutnya, setiap orang perlu lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Hindari membagikan foto, video, atau komentar yang mempermalukan orang lain karena jejak digital dapat menyebar dengan cepat dan menimbulkan dampak yang berkepanjangan bagi korban.
Sri Rahayu berharap masyarakat menjadikan menjaga lisan sebagai budaya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan membiasakan berkata baik, menutup aib saudara, menghindari ghibah, serta tidak disibukkan dengan mencari kesalahan orang lain, kehormatan sesama akan tetap terjaga dan ukhuwah Islamiah semakin kuat.
"Jaga lisan, jangan sibuk membicarakan keburukan orang lain, tetapi sibukkan diri untuk memperbaiki akhlak dan menjaga kehormatan sesama," katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....