Menjaga Akhlak di tengah Perubahan Zaman
- 21 Mei 2026 10:12 WIB
- Entikong
RRI,CO.ID, Entikong - Lunturnya nilai akhlak di tengah masyarakat saat ini semakin menjadi perhatian, terutama dengan munculnya perilaku yang menunjukkan hilangnya rasa malu dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi tersebut dinilai sebagai salah satu tanda menurunnya kualitas moral, di mana sebagian orang tidak lagi merasa segan untuk menampilkan perbuatan yang seharusnya dihindari.
Penyuluh Agama Islam Kecamatan Parindu, Agung Setia Perdana mengatakan bahwa ciri rusaknya akhlak manusia salah satunya adalah hilangnya rasa malu, di mana saat ini banyak orang justru merasa bangga memamerkan dosa yang dilakukan. Jika dahulu seseorang merasa malu untuk memperlihatkan perbuatan dosanya, kini sebagian orang malah merekam dan memamerkan perbuatannya sendiri.
| Baca juga: Menjaga Lisan Demi Harmoni Umat |
"Ciri rusaknya akhlak manusia itu yaitu yang pertama adalah hilangnya rasa malu, kini banyak orang yang bangga memamerkan dosanya. Dulu orang malu memamerkan dosanya kini orang bangga merekam dan memamerkan dosanya," kata Agung dalam Obrolan Mutiara Pagi Islam RRI Sanggau, Kamis 21 Mei 2026.
Ia menjelaskan bahwa ciri rusaknya akhlak manusia yang kedua adalah hancurnya adab dan sopan santun kepada orang tua, yang terlihat dari menurunnya rasa hormat dalam sikap maupun perkataan sehari-hari. Kondisi ini dinilai sebagai tanda melemahnya pendidikan akhlak dalam keluarga sehingga perlu penguatan kembali nilai - nilai adab dalam keluarga.
"Kita lihat di berbagai sosial media banyak anak - anak yang yang tidak sopan kepada orang tua, mereka befikir orang tua sebagai penghalang kebebasannya," katanya.
Menurutnya, Ridha Allah SWT berada dalam ridha orang tua, sehingga setiap bentuk penghormatan, kepatuhan, dan bakti kepada keduanya menjadi jalan utama untuk meraih keberkahan hidup. Ketika seorang anak berusaha menyenangkan orang tuanya dengan sikap yang baik, menjaga ucapan, serta memenuhi hak-hak mereka, maka pada saat itulah ia sedang membuka pintu keridhaan Allah SWT.
Ditambahkan Agung, panutan dan tolak ukur dalam kehidupan seorang muslim adalah memiliki jiwa tauhid yang kuat sebagaimana yang dimiliki oleh Nabi Ibrahim AS, yang senantiasa meneguhkan keimanan hanya kepada Allah SWT dalam setiap keadaan kehidupan dunia. Jiwa tauhid tersebut menjadi dasar utama dalam membentuk pribadi yang kokoh, sabar, dan istiqamah dalam menjalankan perintahnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....