Tipe Santri Penghafal Al-Qur’an dan Pendekatannya

  • 15 Apr 2026 12:21 WIB
  •  Entikong

RRI.CO.ID, Entikong - Proses menghafal Al-Qur’an ternyata tidak sama bagi setiap santri, melainkan memiliki tingkatan kemampuan yang berbeda-beda antara satu dengan lainnya. Kondisi ini menjadi perhatian penting dalam dunia pendidikan tahfiz, karena berpengaruh langsung terhadap penentuan metode pembinaan yang tepat dan sesuai dengan karakter serta kemampuan masing-masing individu.

Pengajar Tahfiz Pondok Al-Mukhlishin Antibar Mempawah, Rainold Renaldi, mengungkapkan perbedaan kemampuan santri dalam menghafal Al-Qur’an merupakan hal yang sangat wajar dan lumrah terjadi. Setiap santri memiliki karakter, latar belakang, serta daya tangkap yang berbeda-beda, sehingga turut memengaruhi proses dan kecepatan mereka dalam menghafal Al-Qur’an.

“Setiap santri memiliki kemampuan yang berbeda dalam menghafal Al-Qur’an, ada yang cepat menghafal namun cepat lupa, ada juga yang lambat tetapi hafalannya lebih kuat. Perbedaan ini menjadi tantangan bagi guru untuk menentukan pendekatan yang tepat,” ungkap Rainold dalam Obrolan Sore Ceria Pro 2 RRI Sanggau, Selasa, 14 April 2026.

Disampaikan secara umum terdapat beberapa tingkatan kemampuan santri dalam menghafal Al-Qur’an yang dapat diamati dalam proses pembinaan. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kebiasaan belajar sehari-hari, lingkungan pergaulan, hingga kuat atau lemahnya dasar kemampuan membaca Al-Qur’an sejak usia dini.

“Ada santri yang cepat menghafal tetapi hafalannya cepat hilang, ada juga yang lambat menghafal namun lebih kuat dalam menjaga hafalannya. Selain itu, ada pula santri yang cepat menghafal dan kuat menjaga hafalannya, yang ini termasuk kategori terbaik,” katanya.

Selain itu kata Rainold, ada santri yang mengalami tantangan pada kedua sisi sekaligus, yakni lambat dalam proses menghafal serta cenderung cepat lupa terhadap hafalan yang telah dipelajari. Kondisi seperti ini membutuhkan perhatian khusus serta bimbingan yang lebih intensif dari seorang guru agar perkembangan santri tetap terarah dan tidak kehilangan semangat belajar.

“Santri yang lambat menghafal dan cepat lupa membutuhkan pendampingan yang lebih intensif. Mereka harus diberikan motivasi dan metode khusus agar tetap berkembang dan tidak kehilangan semangat,” jelasnya.

Faktor pendidikan dasar, menurutnya, memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap tingkatan kemampuan santri dalam menghafal Al-Qur’an. Kemampuan membaca Al-Qur’an yang baik sejak awal menjadi pondasi utama yang menentukan kelancaran dan kualitas proses menghafal di tahap selanjutnya.

“Jika dasar membaca Al-Qur’an sudah baik sejak kecil, maka proses menghafal akan lebih mudah dan hasilnya lebih maksimal. Sebaliknya, jika dasar tersebut lemah, maka prosesnya akan lebih menantang,” ujarnya.

Rainold mengajak agar para pendidik dan orang tua tidak menyamaratakan kemampuan setiap santri dalam proses menghafal Al-Qur’an. Diharapkan setiap anak dapat dibimbing sesuai dengan potensi, karakter, dan kecepatan belajarnya masing-masing, sehingga mampu mencapai hasil terbaik secara optimal dalam perjalanan menghafal Al-Qur’an.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....