Senandung Mesin Jahit di Tengah Ramadan yang Sepi

  • 07 Mar 2026 19:23 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende – Di persimpangan pasar Mbongawani, mesin jahit milik Ratna Sari Dewi terdengar berderit pelan sejak pagi hari. Setelah menyelesaikan pekerjaan rumah, ia menata kain di atas mesin jahit dan mulai bekerja seperti hari-hari sebelumnya.

Ratna merupakan ibu rumah tangga yang membantu ekonomi keluarga dari usaha menjahit. Suaminya bekerja sebagai pengemudi ojek dengan penghasilan yang tidak selalu menentu.

Menurut Ratna, penghasilan dari menjahit menjadi tambahan penting untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dari usaha kecil itulah ia juga membantu membiayai pendidikan anak-anaknya.

Biasanya, kata Ratna, awal Ramadan menjadi waktu paling sibuk bagi penjahit di pasar. Pesanan baju Lebaran berdatangan sehingga ia kerap bekerja hingga malam hari untuk menyelesaikan jahitan pelanggan.

“Kalau tahun-tahun sebelumnya, masuk Ramadan sudah banyak yang pesan baju. Tahun ini pesanan masih sepi, tidak seperti biasanya,” ujarnya.

Meski demikian, Ratna memilih tetap membuka lapaknya setiap hari. Ia berharap pesanan akan mulai berdatangan seiring semakin dekatnya Hari Raya Idulfitri.

Usaha menjahit itu telah lama menjadi penopang keluarga mereka. Dari penghasilan tersebut, Ratna membantu membiayai pendidikan dua anaknya hingga anak sulungnya berhasil dilantik menjadi prajurit TNI.

Ia menyadari tanpa tambahan dari usaha menjahit, kebutuhan keluarga akan semakin berat dipenuhi. Terlebih penghasilan ojek suaminya sering berubah tergantung jumlah penumpang.

Di antara jarum, benang, dan kain yang belum banyak terpotong, Ratna tetap menekuni pekerjaannya dengan sabar. Baginya, Ramadan bukan sekadar musim ramai pesanan, tetapi juga tentang keyakinan bahwa setiap usaha dan doa akan menemukan waktunya sendiri.

Rekomendasi Berita