Tirai Rotan, Penopang Hidup di Kota Ende
- 02 Mar 2026 09:02 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende - Suara langkah kaki terdengar lirih, menyusuri lorong-lorong Kota Ende. Di kedua pundak yang mulai renta, tergantung gulungan tirai rotan yang berat. Itulah Herman, seorang pria paruh baya asal Makassar. Ia jauh dari kampung halaman, meninggalkan istri dan buah hatinya demi satu tujuan: mencari rezeki.
Dengan berjalan kaki, Herman menawarkan tirai rotan dari satu rumah ke rumah lain. Senyum sederhana ia berikan, meski lelah kerap menyelimuti. Di bulan Ramadhan, ia tetap melangkah. Baginya, bulan suci ini adalah bulan penuh berkah. Berkah yang ia harapkan hadir lewat setiap tirai rotan yang terjual.
Puluhan kilometer ia tempuh. Panas terik membakar kulit, hujan deras membasahi tubuh. Namun semangat seorang ayah, tulang punggung keluarga, tak pernah padam.
Di balik gulungan rotan yang dipikulnya, tersimpan harapan besar: rezeki yang cukup, dan kelangsungan hidup anak serta istri yang menantinya di kampung halaman.
Herman terus melangkah. Meski berat, meski sepi, meski penuh ujian. Ia percaya, setiap langkah adalah doa. Setiap keringat adalah pengorbanan. Dan setiap tirai rotan yang terjual adalah secercah harapan bagi keluarga kecilnya.
Herman adalah cermin keteguhan hati. Dari lorong-lorong Kota Ende, ia mengajarkan kita arti perjuangan bahwa cinta seorang ayah tak pernah mengenal lelah, dan pengorbanan adalah jalan menuju kehidupan yang lebih baik.