Roda Rezeki di Bulan Suci Ramadhan
- 02 Mar 2026 08:44 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende - Di tengah riuh kota Ende, roda sebuah gerobak sederhana terus berputar, mengiringi langkah seorang pria paruh baya bernama Agus. Usianya 68 tahun, berasal dari Surabaya, dan kini menjadi kakek dari empat cucu yang selalu menjadi sumber semangatnya.
Ramadhan tak pernah menghentikan langkahnya, justru menjadi pengingat bahwa rezeki harus dijemput dengan sabar dan ikhlas. Pak Agus bukan sekadar penjual soto ayam dan gado-gado. Ia adalah penjaga harapan bagi keluarganya.
Setiap hari, tepat pukul 11.00 siang, ia mulai mendorong gerobaknya menyusuri jalanan kota Ende hingga sore harinya. Aroma kuah soto yang hangat dan bumbu gado-gado yang khas menjadi penanda bahwa perjuangan sedang berlangsung.
Meski tubuhnya letih, ia tahu bahwa setiap piring yang terjual adalah titipan rezeki dari Allah—cukup untuk makan, minum, dan membayar kontrakan. Perjalanan hidup Pak Agus penuh liku. Ia adalah salah satu pengungsi dari Timor-Timur, yang memilih untuk bangkit dan berjuang daripada menyerah pada keadaan.
Gerobak yang ia dorong bukan hanya alat mencari nafkah, melainkan simbol keteguhan hati seorang ayah dan kakek yang tak pernah berhenti melangkah. Ramadhan bagi Pak Agus bukan alasan untuk berhenti bekerja, melainkan semangat untuk terus melangkah.
Ia mengajarkan bahwa rezeki tidak selalu datang dalam jumlah besar, tetapi dalam ketulusan usaha yang konsisten. Setiap piring soto ayam atau gado-gado yang dibeli orang adalah doa yang terjawab, berkah yang mengalir, dan ladang pahala yang tak ternilai.
Kisah Pak Agus mengingatkan kita bahwa Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang kesabaran, kerja keras, dan keikhlasan. Dari roda gerobaknya, kita belajar bahwa perjuangan kecil sekalipun bisa menjadi ladang pahala besar.