Kose, Warisan Rasa Dari Bambu Nagekeo

  • 25 Feb 2026 14:53 WIB
  •  Ende
Video

RRI.CO.ID, Nagekeo - Di tanah Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, aroma bambu terbakar bukan sekadar tanda dapur sedang menyala. Di sanalah sebuah tradisi hidup, diwariskan dari generasi ke generasi. Namanya Kose.

Kose adalah cara memasak nasi bersama daging atau bahan makanan lain di dalam bambu. Namun lebih dari sekadar makanan, kose adalah simbol kebersamaan, gotong royong, dan identitas budaya masyarakat Nagekeo.

Proses kose dimulai jauh sebelum api dinyalakan. Masyarakat terlebih dahulu mencari bambu yang tepat, tidak terlalu tua, tidak pula terlalu muda. Kesalahan memilih bambu bisa membuatnya pecah saat dibakar dan merusak seluruh prosesnya.

Bagi masyarakat setempat, tahapan ini bukan sekadar teknis memasak, tetapi bagian dari pengetahuan tradisional yang diwariskan secara lisan dari para orang tua kepada generasi muda. Setiap langkah memiliki makna dan aturan yang dipatuhi bersama.

Beras menjadi bahan utama dalam kose. Beras dimasukkan ke dalam bambu dengan catatan api sudah berubah menjadi bara agar panasnya merata dan bambu tidak terbakar terlalu cepat. Untuk menjaga hasil masakan tetap bagus, pelepah pisang digunakan sebagai alas dan pelapis bagian dalam bambu. Cara sederhana, namun sarat pengalaman turun-temurun.

Kesabaran menjadi kunci dalam proses ini. Bara api harus dijaga stabil, tidak terlalu besar dan tidak pula terlalu kecil, agar nasi matang sempurna dan daging di dalamnya meresap dengan baik.

Jika ingin aroma yang lebih harum, masyarakat Nagekeo menambahkan rempah khas daerah yang dikenal dengan sebutan sunga lea. Bukan satu jenis rempah, melainkan racikan hasil bumi setempat seperti jahe dan bawang putih. Rempah ini dicampurkan langsung ke dalam beras sebelum dimasukkan ke bambu.

Saat dibakar, aroma rempah bercampur dengan uap panas dan asap bambu, menghasilkan wangi khas yang menjadi ciri kose Nagekeo. Harum tersebut kerap mengundang warga sekitar untuk berkumpul dan menanti hidangan matang bersama.

Kose bukan makanan yang dibuat setiap hari. Ia hadir pada saat-saat khusus, seperti upacara adat, pernikahan, atau ketika menerima tamu terhormat. Di Nagekeo, kose adalah bentuk penghormatan, sajian istimewa yang menandakan nilai kebersamaan dan kekeluargaan.

Di tengah arus modernisasi, tradisi ini terus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman. Kose bukan sekadar makanan dalam bambu, melainkan warisan rasa, kearifan lokal, dan identitas budaya yang harus dijaga bersama-sama.

Rekomendasi Berita