Museum Sandi, Satu-satunya Museum Persandian di Indonesia

  • 19 Jul 2026 11:03 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Museum Sandi di Kotabaru, Yogyakarta, menjadi salah satu destinasi edukasi favorit selama masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Pada pagi hari, museum ini dipadati rombongan pelajar dari berbagai jenjang pendidikan yang mengikuti kegiatan belajar di luar kelas.

Staf Edukator Museum Sandi, Sasmito, Kamis, 16 Juli 2026 mengatakan, selama masa MPLS jumlah kunjungan meningkat drastis dibandingkan hari-hari biasa. "Sejak pagi sudah ada rombongan dari SD Masjid Syuhada, kemudian program Wajib Kunjung Museum dari SLB Negeri 2, dan setelah ini masih ada rombongan siswa SMA BOPKRI yang juga mengikuti MPLS. Selama masa MPLS memang banyak sekolah di sekitar kawasan Kota Baru yang berkunjung ke Museum Sandi," ujarnya.

Pada hari reguler, Museum Sandi rata-rata menerima sekitar 20 hingga 30 pengunjung setiap hari. Namun, saat musim MPLS, jumlah tersebut dapat melonjak hingga ratusan orang karena kedatangan rombongan sekolah.

Selain menjadi tempat belajar sejarah, Museum Sandi juga menerapkan sejumlah aturan bagi pengunjung. Salah satunya adalah larangan makan dan minum di dalam ruang pamer demi menjaga kelestarian koleksi museum.

Makanan atau minuman yang tumpah berpotensi merusak koleksi. Karena itu, makan dan minum tidak diperbolehkan di dalam ruang pamer. Pengunjung juga diharapkan tetap menjaga ketertiban selama berada di museum.

Menurut Sasmito, daya tarik utama Museum Sandi terletak pada tema yang sangat spesifik, yakni sejarah persandian dan kriptografi. Museum ini menjadi satu-satunya museum yang mengangkat tema tersebut di Indonesia.

"Bahkan di dunia jumlah museum persandian juga sangat sedikit. Yang pertama berada di Amerika Serikat, kemudian di Inggris di Bletchley Park, Museum Sandi di Indonesia, dan yang terbaru di Moskow, Rusia," katanya.

Salah satu koleksi unggulan museum adalah Buku Kode C, yaitu sistem bahasa kode yang dirancang oleh dr. Roebiono Kertopati, pendiri Dinas Kode, instansi persandian pertama Republik Indonesia.

Mesin Sandi SN - 101, merupakan salah satu koleksi yang di pamerkan di Museum Sandi yang terletak di Kotabaru Yogyakarta

Roebiono Kertopati mendirikan Dinas Kode pada 4 April 1946 setelah menerima mandat dari Menteri Pertahanan saat itu, Amir Sjarifuddin. Kiprahnya menjadi tonggak penting dalam sejarah sistem persandian nasional.

Tak hanya koleksinya yang bersejarah, lokasi Museum Sandi juga memiliki nilai historis yang tinggi. Kawasan Kota Baru menjadi tempat lahirnya sejarah persandian Indonesia.

Sasmito menjelaskan, kantor pertama Dinas Kode berada di kawasan Jalan Sudirman yang saat itu merupakan kantor Kementerian Pertahanan. Sementara bangunan yang kini menjadi Museum Sandi pernah difungsikan sebagai Kantor Kementerian Luar Negeri ketika ibu kota Republik Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta pada 1946–1947.

"Di sebelah kiri pintu masuk museum terdapat prasasti yang menjelaskan bahwa bangunan ini pernah menjadi Kantor Kementerian Luar Negeri. Jadi, kawasan Kota Baru merupakan landmark sejarah persandian Indonesia," ucapnya.

Selain menyimpan mesin-mesin sandi bersejarah, Museum Sandi juga menampilkan kisah para tokoh yang berjasa dalam perkembangan ilmu persandian. Menurut Sasmito, nilai-nilai yang diwariskan para pelopor persandian masih relevan hingga saat ini, terutama di era digital ketika keamanan informasi menjadi kebutuhan penting.

Melalui berbagai koleksi dan kisah sejarah tersebut, Museum Sandi tidak hanya menjadi tempat wisata edukasi, tetapi juga sarana mengenalkan pentingnya menjaga keamanan informasi kepada generasi muda.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....