Kasih, Keadilan dan Saling Hargai
- 20 Jul 2026 13:21 WIB
- Pontianak
Landasan Toleransi di Al-Qur'an dan Bibel
Toleransi itu ibaratnya: umat Islam minum kopi, umat lain minum teh. Kita tidak mencampurkan kopi saudara kita ke dalam gelas kita, dan mereka pun tidak mencampurkan teh mereka ke dalam kopi kita. Tapi kita duduk bersama, kita minum bersama-sama, kita saling hormati apa yang ada di gelas masing-masing. Itulah analogi sederhananya.
Namun ketika kita masuk ke substansi yang lebih presisi, toleransi ternyata jauh lebih dalam dari sekadar "saling diam dan tidak mengganggu". Ia adalah kasih yang benar-benar dijalankan, keadilan tanpa pilih kasih, dan penghargaan atas martabat setiap manusia.
Ironisnya, di tengah kekayaan nilai luhur ini, data empiris justru menunjukkan sinyal kemunduran dan ancaman serius terhadap ekosistem toleransi di Indonesia:
- SETARA Institute (Laporan 2024) mencatat 260 peristiwa pelanggaran Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB) dengan 402 tindakan – angka ini naik signifikan dari tahun 2023 yang tercatat 217 peristiwa dan 329 tindakan. Tindakan intoleransi oleh aktor non-negara bahkan melonjak hampir 3 kali lipat, dari 26 kasus pada 2023 menjadi 73 kasus pada 2024, yang didominasi oleh ormas keagamaan .
- Tren ini berlanjut: sepanjang 2025, SETARA kembali mencatat 221 peristiwa dengan 331 tindakan pelanggaran KBB, menunjukkan negara belum sungguh-sungguh membangun ekosistem yang melindungi perbedaan.
- Di kalangan generasi muda, bahayanya lebih nyata. Survei SETARA pada 2023 di 5 kota besar menemukan 29,2% siswa SMA masuk kategori intoleran (24,2% intoleran pasif, 5% intoleran aktif yang setuju dengan tindakan kekerasan). KPAI juga mengonfirmasi peningkatan kekerasan berbasis intoleransi di lingkungan sekolah, yang bahkan memakan korban jiwa pada 2025 .
- Survei INFID (2021) bahkan lebih mengkhawatirkan: 42,5% anak muda Indonesia masih memegang pandangan yang cenderung menafikan hak kelompok minoritas dan menganggap keyakinannya sendiri paling benar.
- Ada paradoks data yang menarik: Kementerian Agama RI bersama Universitas Indonesia (2025) merilis Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) mencapai 77,89 – angka tertinggi dalam 11 tahun terakhir, dengan dimensi toleransi sendiri mencapai skor 88,82 (kategori sangat tinggi). Namun dimensi "kebersamaan lintas komunitas" hanya berada di angka 65,49, yang terendah dari tiga indikator yang diukur. Artinya: masyarakat kita bisa menerima perbedaan, tapi masih enggan untuk benar-benar berinteraksi, bertetangga, atau bekerja sama secara akrab dengan mereka yang berbeda keyakinan – inilah yang disebut "toleransi malas" atau "toleransi jarak aman".
- BNPT (2023) melaporkan indeks toleransi nasional membaik dari 61,6% menjadi 70,2%, namun di saat yang sama indeks potensi radikalisme juga menunjukkan tren kenaikan di kalangan masyarakat, mengonfirmasi bahwa angka toleransi yang makro belum tentu menjamin keamanan di tingkat akar rumput.
Di tengah realitas yang bergejolak inilah, ajaran luhur dari Al-Qur'an dan Bibel menjadi penyejuk sekaligus kompas moral yang sangat dibutuhkan. Walaupun akidah dan dasar teologis kedua agama berbeda, nilai-nilai untuk membangun kehidupan bersama yang rukun, adil, dan penuh kasih ternyata sangat seirama, bahkan nyaris identik dalam empat pilar utamanya:
1. Nggak Boleh Paksain Agama & Hormatin Pilihan Keyakinan Orang Lain
Intinya: Urusan ibadah dan keyakinan adalah ranah paling personal yang tidak boleh ada campur tangan manusia. Memaksa orang lain sama dengan merampas martabat kemanusiaannya. Di tengah maraknya aksi pembubaran ibadah kelompok minoritas (yang tercatat naik 19,8% pada 2024 menurut SETARA), prinsip ini adalah benteng pertama yang harus dijaga bersama.
📖 Al-Qur'an
- Al-Baqarah 2:256: "Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama. Sungguh, telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat."
- Al-Kafirun 109:6: "Untukmu agamamu, dan untukku agamaku."
✝️ Bibel
- Roma 14:1, 4: "Terimalah orang yang lemah imannya, tanpa mempersoalkan pertimbangannya... Siapakah engkau yang menghakimi hamba orang lain? Hanya kepada tuannya sendiri ia berdiri atau jatuh."
- Matius 7:1–2: "Janganlah menghakimi orang lain, supaya kalian sendiri juga jangan dihakimi. Sebab sebagaimana kalian menghakimi orang lain, begitu juga Allah akan menghakimi kalian."
2. Kasih Tanpa Batas: Ke Orang Asing, Yang Beda, Sampai Musuh
Intinya: Toleransi bukanlah omongan kosong atau status di media sosial. Ia harus menjadi tindakan nyata: berbuat baik, menolong, dan mengasihi siapa saja – bahkan kepada mereka yang selama ini kita anggap "luar golongan", tidak sejalan, atau secara historis dianggap "lawan".
Data menunjukkan pelanggaran terhadap orang asing, kelompok minoritas, dan pemeluk agama tidak resmi masih menjadi kasus terbanyak. Prinsip ini adalah jawaban langsung atas realitas tersebut.
📖 Al-Qur'an
- Al-Mumtahanah 60:8: "Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak mengusir kamu dari negerimu. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil."
- Al-An'am 6:108: "Dan janganlah kamu memaki apa yang mereka sembah selain Allah, karena mereka akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan."
✝️ Bibel
- Imamat 19:33–34: "Orang asing yang tinggal padamu harus sama bagimu seperti orang Israel asli, kasihilah dia seperti dirimu sendiri, sebab kamu juga orang asing dahulu di tanah Mesir."
- Matius 5:43–44: "Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi orang-orang yang menganiaya kamu, supaya kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga."
- Lukas 10:36–37 (Kisah Orang Samaria yang Baik): "Jadi siapakah yang menjadi sesama orang yang dirampok itu? ... 'Dia yang menunjukkan kasih kepadanya.' Kata Yesus: 'Pergilah, dan lakukanlah hal yang sama juga.'"
3. Beda Suku/Bangsa Itu Ketetapan Tuhan — Nggak Ada Yang Lebih Unggul
Intinya: Perbedaan asal-usul, warna kulit, bahasa, dan latar belakang bukanlah cacat, melainkan desain Tuhan. Ia diciptakan bukan untuk saling merendahkan, melainkan untuk saling mengenal dan melengkapi. Di mata Tuhan, yang membuat seseorang mulia adalah hati dan perbuatannya, bukan label golongan, status sosial, atau mayoritas-minoritas.
Ini adalah jawaban paling tegas atas segala bentuk rasisme, eksklusivisme, dan klaim kebenaran tunggal yang sering memecah belah bangsa kita.
📖 Al-Qur'an
- Al-Hujurat 49:13: "Wahai manusia! Sungguh, Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa."
✝️ Bibel
- Kisah Para Rasul 10:34–35: "Sekarang aku paham benar: Allah tidak pandang bulu. Setiap orang dari bangsa mana pun yang takut akan Dia dan berbuat kebenaran, berkenan kepada-Nya."
- Galatia 3:28: "Tidak ada lagi beda Yahudi atau Yunani, hamba atau orang merdeka, laki-laki atau perempuan — karena kalian semua menjadi satu di dalam Kristus Yesus."
- Kolose 3:11: "Di situ tidak ada lagi perbedaan asal, status, atau peradaban — yang ada hanyalah Kristus yang menyatukan semuanya."
4. Adil Tanpa Pilih Kasih & Terima Orang Apa Adanya
Intinya: Berlaku adil kepada semua orang tanpa pandang bulu, bahkan ketika keadilan itu merugikan kelompok sendiri. Menerima orang lain sebagaimana adanya – sama seperti Tuhan yang terlebih dahulu menerima kita dengan segala kekurangan dan dosa kita.
Data IKUB 2025 menunjukkan dimensi kesetaraan baru mencapai skor 79,35, yang berarti diskriminasi berbasis agama masih cukup nyata di ruang publik, dunia kerja, pendidikan, dan pelayanan negara. Prinsip keadilan inilah yang akan mengangkatnya ke tingkat yang lebih tinggi.
📖 Al-Qur'an
- Al-Baqarah 2:62: "Sesungguhnya orang-orang beriman, orang-orang Yahudi, Nasrani, dan Sabiin — siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir serta beramal saleh, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya."
✝️ Bibel
- Ulangan 10:18–19: "Dialah yang membela hak yatim dan janda, serta mengasihi orang asing... Karena itu kamu harus mengasihi orang asing, sebab kamu dahulu juga pernah menjadi orang asing di tanah Mesir."
- Roma 15:7: "Terimalah satu sama lain, sama seperti Kristus yang telah menerima kamu dengan penuh rahmat."
- Ibrani 13:2: "Jangan lupa berbuat baik kepada orang asing, sebab dengan berbuat demikian ada orang yang tanpa disadari telah menjamu malaikat."
✅ Ringkasnya: Kedua Kitab Ngajarin Hal yang Sama Nih
Di tengah data yang menunjukkan masih tingginya praktik intoleransi, diskriminasi, dan kekerasan berbasis agama, serta adanya "toleransi jarak aman" yang membuat kita enggan bersentuhan langsung dengan yang berbeda, empat pesan kunci ini menjadi obat yang paling mujarab:
1. Pegang teguh keyakinan sendiri, tapi santai bergaul: Tidak perlu semua agama disamakan akidahnya, tapi wajib hukumnya menghargai hak orang lain untuk beribadah sesuai kepercayaannya. Jangan sampai gelas kopi kita tumpah ke gelas teh orang lain, dan sebaliknya.
2. Toleransi itu adalah kasih yang beraksi: Bukan cuma diam dan tidak ganggu, tapi aktif berbuat baik, menegakkan keadilan, dan membela kelompok yang sering terpinggirkan atau kesisihin. Kalau cuma diam, itu namanya bukan toleransi — itu cuma cuek.
3. Beda itu anugerah, bukan musuh: Keberagaman suku, agama, dan budaya diciptakan Tuhan agar kita saling mengenal dan saling melengkapi, bukan dijadikan alasan untuk ribut, saling hina, apalagi saling bunuh.
4. Cuma Tuhan yang berhak menilai hati manusia: Tugas kita bukan menjadi hakim atas keyakinan orang lain, bukan menghakimi siapa yang masuk surga dan siapa yang masuk neraka. Tugas kita cuma satu: berbuat baik, menjaga lisan, dan menciptakan damai di muka bumi.
Semoga nilai-nilai luhur dari kedua kitab suci ini tidak hanya berhenti menjadi hafalan di mimbar-mimbar ibadah, tapi menjadi karakter yang berjalan di setiap langkah kehidupan kita bersama-sama.

Oleh: Tengku Mulia Dilaga Turiman Fachturahman Nur
Data pendukung: Kementerian Agama RI & P3M UI (2025), SETARA Institute (2023–2025), BNPT (2023), INFID (2021), KPAI (2025)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....