Liburan untuk Mengobati Stres, Pulang Membawa Stres Baru

  • 15 Jul 2026 09:35 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Di era modern, hampir semua orang berlomba-lomba mencari uang. Sejak matahari terbit hingga larut malam, tenaga dan pikiran dicurahkan demi memenuhi kebutuhan hidup dan membahagiakan keluarga. Bekerja keras adalah kewajiban, tetapi ketika hidup hanya berputar pada mengejar penghasilan, banyak orang tanpa sadar kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga, yakni ketenangan jiwa.

Fenomena yang kini semakin sering terlihat adalah seseorang bekerja tanpa mengenal lelah hingga mengalami stres. Setelah merasa jenuh, ia memutuskan berlibur dengan harapan dapat mengembalikan semangat dan menghilangkan beban pikiran. Selama beberapa hari, ia menikmati perjalanan, kuliner, dan berbagai hiburan. Namun, ketika liburan usai dan kembali ke rumah, muncul persoalan baru. Tabungan berkurang, pengeluaran membengkak, tagihan menanti, sementara kebutuhan hidup terus berjalan. Akibatnya, stres yang semula ingin dihilangkan justru datang kembali, bahkan terkadang lebih berat dari sebelumnya.

Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukan terletak pada kurangnya liburan, melainkan pada cara manusia memaknai kehidupan. Uang memang sangat penting untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi uang bukan sumber kebahagiaan yang sesungguhnya. Sebanyak apa pun harta yang dimiliki, apabila hati tidak pernah merasa cukup, maka kegelisahan akan selalu mengikuti.

Islam mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal. Seorang muslim diperintahkan bekerja keras, mencari rezeki yang halal, serta memberikan nafkah terbaik bagi keluarganya. Namun, dalam waktu yang sama, ia juga diperintahkan untuk bertakwa, bersyukur, dan meyakini bahwa Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Memberi Rezeki.

Allah SWT berfirman:

"Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya." (QS. At-Talaq: 2–3).

Ayat tersebut mengajarkan bahwa ketakwaan bukan sekadar ibadah ritual, tetapi juga menjadi jalan hadirnya keberkahan dalam kehidupan. Rezeki yang berkah tidak selalu diukur dari jumlahnya, melainkan dari ketenangan, kecukupan, dan manfaat yang dirasakan oleh diri sendiri maupun keluarga.

Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa kekayaan sejati bukanlah melimpahnya harta, melainkan hati yang merasa cukup (qana'ah). Sebab, orang yang selalu mengejar dunia tanpa batas tidak akan pernah merasa puas. Sebaliknya, orang yang bersyukur akan menemukan kebahagiaan meskipun hidup dalam kesederhanaan.

Karena itu, bekerja keras tidak boleh membuat seseorang melupakan ibadah, keluarga, kesehatan, dan waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Liburan memang baik sebagai sarana menyegarkan pikiran, tetapi jangan sampai menjadi pelarian dari masalah yang sesungguhnya. Sebab, ketenangan tidak lahir dari mahalnya tempat wisata, melainkan dari hati yang dekat dengan Allah.

Pada akhirnya, manusia memang harus terus berusaha, bekerja, dan berdoa. Namun, hasil akhirnya hendaknya diserahkan kepada Allah SWT dengan penuh tawakal. Jangan biarkan hidup hanya dihabiskan untuk mengejar uang, sementara ketenangan justru semakin menjauh. Rezeki yang penuh keberkahan akan selalu lebih bernilai daripada harta yang melimpah tetapi menghadirkan kegelisahan.

Maka, bekerjalah dengan sungguh-sungguh, berdoalah tanpa henti, bertakwalah kepada Allah SWT, dan belajarlah menerima kehidupan dengan penuh syukur. Sebab, kebahagiaan sejati bukan diukur dari seberapa jauh kita berlibur atau seberapa besar saldo yang dimiliki, melainkan dari seberapa tenang hati kita ketika menjalani setiap ketetapan Allah SWT.

(oleh: Dr. Bukhari, S.HI., M.H., CM – Akademisi UIN Lhokseumawe dan Advokat).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....