AKN dan UTU Bantu Pulihkan Trauma Korban Bencana di Kala Segi
- 19 Jul 2026 07:47 WIB
- Takengon
RRI.CO.ID,Takengon – Banjir dan longsor yang melanda Kampung Kala Segi, Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah, tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga menyisakan trauma mendalam bagi warga.
Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Akademi Komunitas Negeri (AKN) Aceh Barat, berkolaborasi dengan Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh, menggelar pendampingan psikososial berbasis spiritualitas Islam, Jumat 17 Juli 2026.
Program ini bertajuk “Model Pendampingan Psikososial Berbasis Spiritualitas Islam bagi Korban Banjir Longsor di Kala Segi, Bintang, Aceh Tengah”.
Program ini didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui BIMA Tahun 2026 berdasarkan Nomor Kontrak **082/C3/DT.05.00/PM/2026.
Ketua tim pengabdian, Luthfi, S.Pd.I., M.Pd., mengatakan kegiatan tersebut menjadi ruang bersama bagi warga untuk saling menguatkan setelah mengalami bencana.
“Terima kasih atas sambutan hangat Ibu-Ibu Tangguh Kala Segi. Semoga rangkaian program ini memberikan manfaat dan menjadi ruang bersama untuk saling menguatkan,” ujar Luthfi.
Kelompok Ibu-Ibu Ta’awun Tangguh Kala Segi menjadi mitra utama dalam program. Kegiatan diawali dengan sosialisasi mengenai tujuan, tahapan pendampingan, serta pengenalan alat bantu yang akan digunakan.
Dosen UTU, Lilis Marlina, S.E., M.Si., hadir sebagai narasumber dalam sesi penguatan peran fasilitator mitra, dalam Majelis Tematik Bagian 1.
Dengan memberi materi “Mengokohkan Akidah di Tengah Bencana” yang menekankan pentingnya doa, dzikir, kesabaran, dan tawakal sebagai sumber kekuatan spiritual dalam menghadapi tekanan psikologis pascabencana.
Sesi diskusi berlangsung emosional. Seorang peserta menceritakan pengalamannya saat terseret arus banjir dan merasa hidupnya akan berakhir.
“Saya terus berdzikir sampai akhirnya berhasil diselamatkan,” ungkapnya.
Meski selamat, ia mengaku masih diliputi ketakutan setiap kali hujan turun. Bahkan, sejumlah dokumen penting telah disiapkan dalam satu tas, agar mudah dibawa jika bencana kembali terjadi.
Peserta lain juga mengisahkan bahwa suara deras air saat banjir dan longsor terdengar seperti petir sehingga membuatnya merasa kiamat telah datang.
Kisah-kisah tersebut menunjukkan bahwa dampak bencana tidak berhenti pada kerusakan rumah dan harta benda, tetapi juga menyentuh kondisi psikologis warga.
Ketua Kelompok Ta’awun Tangguh Kala Segi, Marjannah menyatakan kesiapan kelompoknya mengikuti seluruh tahapan program.
“Insyaallah, kami mau mengikuti program ini,” katanya.
Program ini akan dilanjutkan dengan Majelis Tematik Bagian 2 dan latihan simulasi kader.
Melalui latihan tersebut, para ibu dibekali kemampuan dasar untuk mendengarkan secara empatik, memberikan dukungan awal, menenangkan keluarga yang terdampak, hingga mengarahkan warga yang membutuhkan bantuan.
Tim pengabdian berharap Kelompok Ibu-Ibu ini dapat tumbuh menjadi komunitas yang tangguh secara spiritual, peduli terhadap sesama, dan memiliki kemampuan dasar memberikan dukungan psikososial bagi warga terdampak bencana.(FJ)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....