Media Siber Sumsel Manfaatkan AI, Etika Tetap Jadi Prioritas

  • 17 Jul 2026 17:20 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Media siber Sumatera Selatan melakukan adaptasi masif dengan teknologi Kecerdasan Buatan menjelang 2026 untuk meningkatkan efisiensi produksi berita.
  • AI berfungsi sebagai asisten redaksi yang membantu mempercepat produksi berita, melakukan verifikasi hoaks, dan personalisasi konten bagi pembaca.
  • Pengembangan AI dalam industri media harus tetap mengedepankan etika jurnalistik, verifikasi data yang akurat, dan mempertahankan peran manusia sebagai elemen kunci dalam proses jurnalistik.

RRI.CO.ID, Palembang - Masuk 2026, media siber di Sumatera Selatan mulai beradaptasi masif dengan teknologi Kecerdasan Buatan AI. AI tidak menggantikan jurnalis, tapi jadi “asisten redaksi” untuk mempercepat produksi berita, verifikasi hoaks, hingga personalisasi konten bagi pembaca.

Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah membawa perubahan besar dalam dunia media siber. Namun, pemanfaatannya harus tetap mengedepankan etika, verifikasi data, dan peran manusia dalam proses jurnalistik.

Hal itu diungkap dalam Dialog Palembang Menyapa di PRO 1 RRI Palembang, Jumat, 17 Juli 2026 yang menghadirkan narasumber Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Sriwijaya, Husni Thamrin, serta Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Sumatera Selatan, Firdaus Komar.

Husni menjelaskan, perkembangan teknologi terus meluas seiring hadirnya kecerdasan buatan yang mampu membantu manusia dalam memperoleh berbagai informasi. Menurutnya, AI memberikan peluang besar untuk meningkatkan efisiensi dalam pencarian informasi, tetapi tidak dapat menggantikan peran manusia sepenuhnya.

"AI hanya sebagai alat bantu. Peluangnya sangat besar untuk membantu mencari informasi, tetapi konteksnya tetap harus dimanusiakan," ujar Husni. Sementara itu, Firdaus mengatakan, dunia media telah beberapa kali beradaptasi dengan berbagai perkembangan teknologi.

Ia menegaskan, hasil yang diperoleh dari AI tidak selalu sesuai dengan data dan fakta di lapangan sehingga setiap informasi tetap harus diverifikasi sebelum dipublikasikan. "AI memang membantu, tetapi konsep dan narasinya harus kita sesuaikan. Data yang dihasilkan harus diperiksa kembali agar sesuai dengan fakta," katanya.

Firdaus juga mengingatkan bahwa penggunaan AI dalam dunia jurnalistik harus tetap mengacu pada kode etik jurnalistik, Undang-Undang Pers, serta kaidah profesional agar informasi yang disajikan tidak bertentangan dengan aturan yang berlaku. Aspek yang paling penting adalah pengawasan serta penyusunan aturan yang jelas, khususnya di lingkungan pendidikan, agar penggunaan AI memberikan manfaat tanpa mengabaikan etika dan tanggung jawab.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....