Saat Ratusan Anak SD di Banyudono Membebaskan Pohon dari Siksaan Paku

  • 17 Jul 2026 10:12 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Boyolali — Pagi itu, ruas jalan dari Perum Aru-Aru hingga Bendan di Kecamatan Banyudono tampak berbeda. Riuh rendah suara tawa khas anak-anak memecah keheningan. Bukan sedang bermain game di gawai atau sekadar jalan-jalan santai, ratusan pasang mata mungil itu justru sedang sibuk menyisir pinggir jalan, menatap lekat ke arah batang-batang pohon yang berdiri di sepanjang rute tersebut.

Hari itu merupakan momen penutupan Forum Ta'aruf Siswa Baru (FORTASIB) 2026 di SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Banyudono. Alih-alih merayakannya dengan pesta di dalam aula, sekolah ini memilih cara yang tak biasa dan jauh lebih bermakna, mengajak 570 siswanya turun ke jalan untuk melakukan aksi penyelamatan lingkungan.

Mengenakan seragam olahraga, para siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 tampak antusias. Tangan-tangan mungil mereka cekatan memegang kantong plastik besar, memungut setiap helai sampah plastik yang berserakan di jalanan.

Namun, pemandangan paling menyentuh terlihat saat anak-anak kelas atas, didampingi para guru, mulai mendekati pohon-pohon perindang. Di tangan mereka, terselip alat pencabut paku. Tugas mereka hari itu cukup berat namun mulia: membebaskan kulit-kulit pohon dari paku-paku karat yang tertanam paksa demi ego iklan komersial.

Ratusan siswa melakukan aksi mulia cabut paku yang tertanam di batang-batang pohon dalam momen penutupan Forum Ta'aruf Siswa Baru (FORTASIB) 2026 di SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Banyudono. (Foto: RRI/Kisno)

Di sela-sela riuhnya aksi tersebut, Albi dan Gibran, dua siswa kelas 4B, tampak bersimbah keringat. Wajah mereka menunjukkan perpaduan antara rasa geram dan iba saat melihat sebuah paku besar menancap dalam di kulit sebuah pohon peneduh.

"Kasihan pohonnya dipaku, ayo diambil!" cetus keduanya kompak penuh semangat, sambil bahu-bahu membahu mencabut logam tajam tersebut.

Bagi Albi, Gibran, dan ratusan anak lainnya, melihat paku-paku itu terlepas dari batang pohon melahirkan kepuasan tersendiri. Mereka sadar, pohon juga makhluk hidup yang butuh bernapas dan tumbuh tanpa rasa sakit.

Aksi nyata ini sengaja diinisiasi oleh pihak sekolah sebagai penutup rangkaian masa orientasi siswa. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Putri Endriastuti, menjelaskan bahwa esensi dari FORTASIB adalah mengenalkan siswa pada lingkungan—bukan cuma lingkungan sekolah, tapi juga lingkungan sosial dan alam sekitar.

"Melalui kegiatan ini kami ingin menanamkan karakter peduli lingkungan, gotong royong, dan rasa tanggung jawab kepada seluruh siswa. Belajar tidak hanya di dalam kelas, tetapi juga melalui aksi nyata yang bermanfaat bagi masyarakat," tutur Putri di sela-sela mendampingi siswa.

Langkah tak biasa ini pun mendapat apresiasi penuh dari Kepala SD Muhammadiyah PK Banyudono, Pujiono. Baginya, pendidikan karakter tidak akan pernah efektif jika hanya menjadi hafalan di lembar soal ujian. Karakter harus dibentuk dari sentuhan dan pengalaman langsung.

"FORTASIB bukan sekadar ajang perkenalan bagi siswa baru, tetapi juga momentum membentuk karakter. Aksi memungut sampah dan mencabut paku di pohon mengajarkan kepedulian terhadap alam, karena menjaga lingkungan merupakan bagian dari akhlak seorang muslim," ujar Pujiono mantap.

Setelah menyusuri rute yang cukup panjang, kantong plastik yang dibawa para siswa kini telah penuh terisi sampah. Di tangan para guru dan siswa kelas atas, puluhan paku berkarat berhasil dikumpulkan—sebuah bukti bisu betapa seringnya manusia abai terhadap kelestarian alam.

Kegiatan FORTASIB 2026 ini pun ditutup dengan khidmat melalui doa bersama dan refleksi singkat di bawah keteduhan pohon-pohon yang kini telah "merdeka" dari paku.

Melalui secangkir aksi sederhana di sepanjang jalan Aru-Aru hingga Bendan ini, SD Muhammadiyah PK Banyudono tidak hanya berhasil membersihkan jalanan. Lebih dari itu, mereka telah berhasil menanamkan benih-benih kepedulian di dalam hati generasi masa depan.

Harapannya, saat anak-anak ini tumbuh dewasa kelak, mereka akan tetap membawa kebiasaan baik ini: menjadi pelindung alam, bukan perusaknya. (Kisno)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....