Wabup Ajak Seluruh Pihak Bersinergi Jadikan Boyolali Zero Stunting

  • 16 Jul 2026 22:32 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Boyolali - Dinas Kesehatan (Dinkes) Pemkab Boyolali menyelenggarakan acara Rembug Stunting dalam rangka Koordinasi Jejaring Program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Gizi, dan Kesehatan Reproduksi Tahun 2026.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di Front One Boutique Adria Boyolali, Kamis 16 Juli 2026, dan dipimpin langsung oleh Wakil Bupati (Wabup) Boyolali Dwi Fajar Nirwana selaku Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten Boyolali

Kepala Dinkes Kabupaten Boyolali FX. Kristandiyoko menyampaikan dalam laporannya, Rembug Stunting ini diikuti peserta luring 80 orang dan peserta daring 32 orang dari seluruh instansi terkait.

Untuk prevalensi stunting di Kabupaten Boyolali saat ini, lanjutnya, ada diangka 12,13 %. Kemudian cakupan kunjungan ibu hamil mencapai 48,5 %. Namun, berdasarkan data dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024, angka stunting Kabupaten Boyolali masih berada pada angka 24,5 %.

Pria yg akrab disapa Kris ini mengatakan, masih ada gap pada kedua data. Hal ini dikarenakan oleh perbedaan metode dalam pengumpulan data. Untuk itu, sambung Kris, diperlukan perbaikan kualitas data yang meliputi cakupan dan akurasi. Kemudian ketepatan waktu penyelesaian input laporan dengan toleransi waktu untuk melakukan verval oleh petugas puskesmas. Selanjutnya, perlunya keseragaman petugas pengisian hanya oleh bidan desa. Dan yang terakhir adalah belum optimalnya analisa sebelum terjadinya stunting.

“Kita berharap bahwa dengan menyamakan persepsi, membangun komitmen, karena Dinas Kesehatan tidak bisa berdiri sendiri bagaimana bisa untuk menurunkan stunting. Seluruh OPD mempunyai peran dan tanggung jawab masing-masing,” ujar Kris.

Memimpin Rembug Stunting tersebut, Wabup Fajar menyoroti peringkat Kabupaten Boyolali yang masih menduduki peringkat ketiga dengan stunting tertinggi di Jawa Tengah. Pihaknya juga menyebut masih banyaknya kasus kematian ibu dan bayi. Per Juni 2026, terdapat enam kasus kematian ibu dan 66 kasus kematian bayi.

Selain kematian ibu dan bayi, balita stunting pendek dan sangat pendek di Boyolali berjumlah 6.814. Kemudian balita wasting, gizi buruk dan kurang gizi ada 2.313 anak. Selanjutnya, balita stunting wasting pendek dan sangat pendek, gizi buruk dan gizi kurang ada 560 bayi.

Wabup wanita pertama di Kota Susu ini menyampaikan beberapa langkah taktis sebagai tindak lanjut menangani permasalahan tersebut. Wabup Fajar menjelaskan, yang pertama harus dilakukan adalah klasterisasi intervensi berbasis kriteria. Kemudian langkah selanjutnya adalah menaikkan partisipasi timbangan ke posyandu.

Langkah ketiga yaitu kunci akurasi alat dan data antropometri. Untuk selanjutnya, langkah yang digunakan adalah fokus memaksimalkan pada intervensi hulu melalui audit calon pengantin. Dan yang terakhir yaitu konvergensi anggaran dan keterlibatan pihak swasta melalui CSR.

Pada kesempatan ini, Wabup memberikan arahan kepada masing-masing OPD yang ada di lingkungan Pemkab Boyolali untuk berpartisipasi dalam percepatan penurunan stunting di Kabupaten Boyolali.

"Jadi memang penanganan stunting tidak bisa hanya dibebankan kepada dinas tertentu saja, tetapi menjadi sinergi dan kolaborasi bagi kita bersama. Mari kita buktikan bahwa kerja cerdas kita, sinergi kita, kolaborasi kita, mampu membawa Boyolali menjadi wilayah yang zero stunting," ajak Wabup Fajar. (Kisno/Rill)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....