Ekonomi Sirkular Dorong Pemanfaatan Sampah Nonorganik bagi Masyarakat dan UMKM

  • 16 Jul 2026 20:49 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar – Konsep ekonomi sirkular menjadi salah satu solusi dalam pengelolaan sampah yang tidak hanya berdampak positif bagi lingkungan, tetapi juga mampu memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat dan pelaku UMKM. Dalam konsep ini, sampah tidak lagi dipandang sebagai limbah yang harus dibuang, melainkan sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali melalui proses daur ulang.

Muhammad Alvin R. - Founder/Direktur Utama Bumiraya Indonesia dalam Obrolan Teras UMKM Pro4 RRI Makassar pada hari Rabu, 15 Juli 2026, menjelaskan bahwa penerapan ekonomi sirkular sangat erat kaitannya dengan pengelolaan sampah, khususnya sampah nonorganik. Menurutnya, hampir seluruh jenis sampah nonorganik, seperti plastik, karton, logam, hingga kaca, memiliki potensi untuk didaur ulang menjadi bahan baku maupun produk baru yang memiliki nilai jual.

"Pada ekonomi sirkular, sampah nonorganik sebenarnya dapat diperbarui atau didaur ulang kembali. Contohnya plastik yang memiliki berbagai jenis, dan masing-masing jenis tersebut sudah memiliki pabrik pendaur ulang yang siap mengolahnya menjadi produk baru”, ujar Alvin.

Alvin mengatakan bahwa plastik merupakan salah satu jenis sampah yang memiliki nilai ekonomi tinggi karena permintaannya terus meningkat. Berbagai industri daur ulang membutuhkan pasokan plastik bekas yang telah dipilah sesuai jenisnya untuk diproses kembali menjadi bahan baku produksi.

Selain plastik, limbah kemasan produk, termasuk botol dan wadah bekas produk perawatan kulit (skincare), juga dapat dimanfaatkan kembali. Namun, sebelum diserahkan ke pabrik daur ulang, seluruh kemasan harus dibersihkan agar memenuhi standar pengolahan. "Semua kemasan harus dibersihkan terlebih dahulu. Tim kami yang melakukan proses pembersihan sehingga tidak ada lagi sisa isi produk di dalam kemasan. Setelah benar-benar bersih, baru kami kirim ke pabrik daur ulang," jelasnya.

Lebih lanjut, Alvin menilai ekonomi sirkular juga memberikan manfaat besar bagi pelaku UMKM. Berbagai jenis usaha, mulai dari usaha makanan hingga penjualan pakaian, umumnya menggunakan kemasan berbahan plastik maupun karton yang masih memiliki nilai jual setelah digunakan.

Menurutnya, plastik pembungkus pakaian, gelas plastik minuman, wadah makanan, hingga karton bekas dapat dikumpulkan dan dipilah untuk kemudian dijual kepada industri daur ulang. Karena itulah, timnya secara aktif membentuk tim kebersihan pada berbagai kegiatan atau acara untuk mengumpulkan sampah yang masih memiliki nilai ekonomi. "Setiap ada kegiatan, kami membentuk tim kebersihan. Tujuan utamanya adalah mengumpulkan sampah yang masih bisa didaur ulang, terutama plastik, karena sekarang nilainya cukup tinggi”, kata Alvin.

Alvin mengungkapkan bahwa harga jual sampah plastik terus mengalami peningkatan. Plastik yang hanya dibersihkan dan dijual dalam bentuk utuh sudah memiliki nilai sekitar Rp6.000 hingga Rp9.000 per kilogram. Nilai tersebut akan terus bertambah apabila melalui tahapan pengolahan berikutnya. "Kalau hanya dibersihkan lalu dijual, sudah ada harganya. Setelah dicacah nilainya meningkat, kemudian jika diolah menjadi biji plastik atau pelet plastik, nilainya akan jauh lebih tinggi. Jadi setiap proses pengolahan selalu menambah nilai ekonomi," jelasnya.

Dalam proses pengumpulan sampah, pihaknya juga menerapkan sistem pemilahan berdasarkan kategori material. Langkah ini dilakukan agar sampah yang terkumpul lebih mudah diproses oleh industri daur ulang sesuai dengan jenis bahannya. "Semua sampah dipilah sesuai kategorinya, seperti plastik, logam, karton, kertas, dan botol kaca. Bahkan untuk plastik masih dibedakan lagi berdasarkan jenisnya, seperti PET, PP, HDPE, dan jenis lainnya. Pemilahan inilah yang menjadi kunci agar sampah memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi”, pungkas Alvin.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....