Pengamat: MPLS Harus Jadi Proses Adaptasi, Bukan Ajang Perpeloncoan

  • 16 Jul 2026 18:57 WIB
  •  Semarang
Poin Utama
  • MPLS harus dirancang sebagai proses edukatif yang membantu peserta didik beradaptasi dengan lingkungan belajar baru dan membangun karakter positif tanpa praktik perpeloncoan atau kekerasan.
  • Hari pertama sekolah seharusnya meninggalkan kesan positif dengan membangun rasa aman, nyaman, dan percaya diri siswa melalui pendampingan, keteladanan, dan pengenalan budaya sekolah yang positif.
  • Pembentukan karakter memerlukan sinergi dari sekolah, keluarga, dan masyarakat melalui pembiasaan nilai-nilai positif, bukan melalui kekerasan atau trauma psikologis.

RRI.CO.ID, Semarang – Pengamat Pendidikan Universitas PGRI Semarang, Dr. Ngasbun Egar, menegaskan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) harus menjadi proses adaptasi yang membantu peserta didik mengenal lingkungan belajar baru, bukan ajang perpeloncoan maupun kekerasan. Menurutnya, pelaksanaan MPLS perlu mengedepankan prinsip pendidikan yang edukatif, aman, dan ramah anak sebagai langkah awal membangun karakter siswa.

Ngasbun mengatakan, MPLS merupakan bagian dari proses pendidikan yang dirancang untuk membantu peserta didik beradaptasi dengan lingkungan sekolah dan budaya belajar di jenjang pendidikan yang baru. Karena itu, kegiatan tersebut harus memberikan pengalaman positif bagi siswa sejak hari pertama masuk sekolah.

"Jadi masa pengenalan lingkungan sekolah berarti MPLS ini merupakan proses edukatif ya untuk membantu peserta didik melakukan adaptasi-adaptasi dengan lingkungan belajar yang baru," katanya dalam dialog bersama RRI, Kamis, 16 Juli 2026.

Ia menilai hari pertama sekolah akan menjadi pengalaman yang dikenang peserta didik sepanjang hidupnya. Oleh sebab itu, sekolah perlu menciptakan suasana yang aman, nyaman, serta membangun rasa percaya diri siswa melalui pendampingan dan pengenalan budaya sekolah yang positif.

Menurut Ngasbun, praktik perpeloncoan maupun kekerasan tidak boleh lagi menjadi bagian dari pelaksanaan MPLS. Selain berpotensi menimbulkan trauma psikologis, cara tersebut juga dapat menormalisasi budaya kekerasan di lingkungan pendidikan.

"Karakter itu bisa dibangun justru bukan melalui kekerasan kekerasan gitu, karakter akan tumbuh ya bahwa kita mesti membangun karakter," ujarnya.

Ia menambahkan, pembentukan karakter peserta didik sangat bergantung pada peran guru sebagai teladan sekaligus pembimbing. Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga menanamkan disiplin positif, semangat berkolaborasi, serta sikap saling menghargai di lingkungan sekolah.

Selain sekolah, keluarga dan masyarakat juga memiliki tanggung jawab dalam mendukung pembentukan karakter anak melalui pembiasaan nilai-nilai positif. Sinergi ketiga unsur tersebut diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian, tanggung jawab, dan karakter yang kuat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....