Dosen Psikologi USD: Keterampilan Sosial Anak Perlu Dilatih sejak Usia Dini
- 16 Jul 2026 16:07 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Setiap anak yang lahir diharapkan bisa tumbuh menjadi pribadi yang baik, santun, dan peka terhadap lingkungannya. Kemampuan bersosialisasi anak ini sangat bergantung pada faktor sejak kapan hal tersebut diperkenalkan oleh orang tua, yang idealnya dimulai sejak usia dini.
Dosen Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Ratri Sunar Astuti mengungkapkan saat menjadi narasumber di RRI Yogyakarta bahwa keterampilan sosial akan ikut berkembang secara bertahap seiring bertambahnya usia anak.
“Anak bisa mulai diperkenalkan dari sebuah permainan, yang lambat laun akan tumbuh minat pada anak dengan permainan itu. Orang tuanya yang akan mengarahkan agar anak bisa berkembang sesuai minatnya,” katanya pada Kamis, 16 Juli 2026.
Peminatan pada sebuah permainan atau di bidang seni, seperti seni tari, seni suara, melukis, hingga fotografi, akan memberikan nilai positif bagi anak karena mereka mulai belajar mengenali lingkungan sekitarnya.
Tujuan memperdalam permainan tersebut adalah untuk menambah keterampilan (skill) dan peminatan anak. Ketika sejak dini sudah mulai berinteraksi dengan lingkungan dan teman-temannya, anak dapat diajarkan sendi-sendi sosial secara bertahap oleh orang tua maupun lingkungan terdekatnya.
Lebih lanjut, Ratri menjelaskan bahwa di balik tumbuh kembang balita untuk menjadi pribadi yang membanggakan, terdapat peran besar orang tua di dalamnya. Anak perlu dibiasakan sejak dini untuk mengucapkan tiga kata kunci penting, yaitu maaf, tolong, dan terima kasih kepada orang lain.
| Baca juga: Tradisi & Budaya Beriringan Dengan Islam |
“Keberadaan orang tua, orang terdekat serta peran sekolah dalam mengenalkan sopan santun, budi pekerti diperlukan. Namun untuk bisa berkembang dengan baik, maka anak-anak membutuhkan pendampingan dan latihan bersosialisasi,” ujarnya.
Keterampilan sosial ini dapat diajarkan sesuai dengan tahapan usia anak. Bentuknya dapat berupa keterampilan untuk menolak permintaan orang lain secara baik, bertukar pendapat, memberi saran, memberikan pujian, hingga menyampaikan keberatan.
“Sebaiknya anak diajari sejak berusia 1 tahun, karena interaksi dengan orang lain itu sudah dimulai. Balita sudah mulai belajar ekspresi emosi walaupun belum tahu istilahnya. Contoh belajar mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, meski reaksi anak hanya menggeleng, mengangguk, atau tersenyum,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....