Dies Natalis ke-62, ISI Surakarta Ingin Jadi Penggerak Peradaban

  • 16 Jul 2026 06:18 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Merayakan hari jadinya yang ke-62, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta mengusung tema besar "Transformasi Seni Menggerakkan Peradaban". Melalui momentum Dies Natalis ini, ISI Surakarta menegaskan target ke depannya untuk bertransformasi menjadi pionir sekaligus penggerak utama dalam peradaban nusantara.

Rektor ISI Surakarta, Dr. Bondet Wrahatnala, S.Sos., M.Sn, menyampaikan bahwa seni tidak boleh lagi dipandang dengan stigma lama yang kuno atau sekadar tradisi statis. Sebaliknya, seni modern harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi serta zaman, sekaligus menjadi media yang bersifat ajur ajer atau melintas ke berbagai wilayah kehidupan masyarakat.

"Harapannya sesuai dengan tema dari Dies Natalis kali ini insyaallah ISI ke depan bisa menjadi pionir untuk bisa menggerakkan peradaban. Jadi seni itu bisa ajur ajer, seni itu bisa melintas kemana-mana. Artinya dengan melalui media seni kita bisa melakukan pendekatan-pendekatan pada seluruh lapisan masyarakat. Kami yakin bahwa seni itu bisa menjadi jembatan, bisa menjadi sarana harmonisasi," kata Dr. Bondet Wrahatnala, S.Sos., M.Sn saat ditemui setelah acara Dies Natalis pada Rabu, 15 Juli 2026

Menurutnya juga ISI Surakarta harus bisa menggerakkan peradaban. Karena peradaban atau civilization itu menjadi kunci untuk bisa menyesuaikan diri, mengadaptasi dengan teknologi, mengadaptasi dengan perkembangan zaman.

Diharapkan dengan usianya yang menginjak 62 tahun ini, ISI Surakarta bisa mengawangi semua agar seni bisa menjadi media untuk menggerakkan peradaban.

Ditambahkan Rektor Dr. Bondet Wrahatnala, S.Sos., M.Sn, dirinya mentargetkan ke depan ISI Surakarta bisa terus bertransformasi di tengah perkembangan zaman, serta memiliki dampak untuk masyarakat secara luas.

"Target kita ke depannya kami ingin bertransformasi. Kampus seni itu harus berdampak, tapi dampak kultural yang ingin kita harapkan yaitu peradaban semakin bergerak. Kami ingin mengakselerasi itu semua melalui seni budaya," katanya menambahkan.

Sebagai wujud nyata dari upaya transformasi dan diplomasi budaya tersebut, ISI Surakarta sebelumnya telah membuktikan peran seni dalam merangkul wilayah perbatasan. Bersama Pemerintah Kabupaten Belu, ISI Surakarta berhasil merangkul negara tetangga Timor Leste melalui pendekatan seni, guna menjaga kawasan perbatasan agar tetap damai dan harmonis.

Lebih lanjut, Dr. Bondet Wrahatnala, S.Sos., M.Sn turut menjelaskan bahwa kekuatan akademis ISI Surakarta untuk menggerakkan peradaban nusantara juga terus diperkuat, salah satunya melalui penambahan guru besar.

Saat ini, ISI Surakarta tercatat memiliki 11 guru besar aktif dan tengah mengajukan dua guru besar baru di tahun 2026, baik dari jalur karya maupun pengkajian.

Melalui jargon "Aksi Kolaboratif, Akselerasi Transformasi", ISI Surakarta berkomitmen agar ilmu seni, baik secara praksis maupun pengetahuan, dapat dipelajari oleh seluruh elemen masyarakat demi mengakselerasi pergerakan peradaban ke arah yang lebih maju. (JK)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....