Awali Tahun Ajaran Baru, Ribuan Murid di Gayo Diserahkan ke Guru Secara Adat
- 15 Jul 2026 21:01 WIB
- Takengon
Poin Utama
- Ribuan murid tingkat SD dan SMP dari lima kecamatan (Bebesen, Pegasing, Lut Tawar, Bies, dan Kebayakan) mengikuti prosesi Munyerahni Murid Ku Tengku Guru di Lapangan Musara Alun, Takengon pada 15 Juli 2026.
- Kegiatan dimulai dengan ritual tepung tawar dalam bahasa Gayo yang menjadi simbol kolaborasi pendidikan antara orang tua, guru, dan pemerintah dalam membimbing peserta didik.
- Bupati Aceh Tengah Haili Yoga menekankan pentingnya penghormatan terhadap guru dan keberkahan doa dalam kesuksesan pendidikan anak, serta mewajibkan wali murid kelas satu untuk menyerahkan anak secara adat kepada guru.
RRI.CO.ID,Takengon - Suasana khidmat menyelimuti Lapangan Musara Alun, Takengon, Rabu 15 Juli 2026. Ribuan murid tingkat SD dan SMP berkumpul, dalam prosesi Munyerahni Murid Ku Tengku Guru.
Para murid baru itu didampingi orang tua, guru hingga kepala sekolah dari Lima kecamatan di daerah berhawa sejuk ini, meliputi Bebesen, Pegasing, Lut Tawar, Bies, dan Kebayakan.
Kegiatan yang menandai dimulainya Tahun Ajaran Baru 2026/2027 ini tidak hanya terpusat di satu titik, melainkan digelar serentak di seluruh sekolah di Kabupaten Aceh Tengah.
Acara diawali dengan ritual tepung tawar dalam bahasa Gayo, yang disaksikan langsung oleh para wali murid. Ritual ini menjadi pengingat bahwa pendidikan adalah kolaborasi antara orang tua, guru, dan pemerintah.
Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga menekankan pentingnya hari ini sebagai momen sakral. Dirinya mewajibkan wali murid kelas satu untuk mengantar langsung putra-putrinya dan menyerahkan mereka kepada guru secara adat.
"Guru membimbing tanpa pamrih dan senantiasa mendoakan murid-muridnya. Jangan pernah menyakiti atau meremehkan guru, karena guru adalah pelita dalam kehidupan ," ujar Bupati Haili.
Lebih lanjut, Bupati mengingatkan bahwa kesuksesan seorang anak tidak lepas dari keberkahan doa serta rasa hormat mereka kepada guru yang membimbing dengan tulus.
Prosesi Munyerahni Murid Ku Tengku Guru tidak hanya simbol pelestarian budaya Gayo semata, tetapi menjadi identitas yang memperkuat komitmen masyarakat dalam memajukan dunia pendidikan.(FJ)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....