Dewan Pendidikan Jatim Soroti Darurat Pendidikan Afektif

  • 14 Jul 2026 19:54 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Dewan Pendidikan Jawa Timur menilai penguatan pendidikan afektif berbasis literasi lingkungan hidup menjadi kebutuhan mendesak di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan transformasi digital. Pendidikan dinilai tidak cukup hanya membekali peserta didik dengan pengetahuan, tetapi juga harus mampu menumbuhkan kepedulian, empati, dan tanggung jawab terhadap lingkungan.

Anggota Dewan Pendidikan Jawa Timur, Ali Yusa, dalam pernyataan tertulis yang disampaikan kepada RRI, Senin 13 Juli 2026 mengatakan persoalan lingkungan yang terjadi saat ini tidak semata-mata disebabkan minimnya pengetahuan masyarakat, melainkan belum tumbuhnya kesadaran untuk menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

"Kita telah berhasil mencetak generasi yang mengetahui, tetapi belum sepenuhnya melahirkan generasi yang menghayati. Pengetahuan tentang lingkungan sering berhenti sebagai teori dan belum menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari," ujarnya.

Menurut Ali Yusa, kondisi tersebut merupakan dampak dari sistem pendidikan yang selama ini lebih menitikberatkan pada capaian akademik dibandingkan pembentukan karakter. Akibatnya, peserta didik memahami pentingnya menjaga lingkungan, tetapi belum memiliki kepedulian yang kuat untuk menerapkannya melalui tindakan nyata.

Ia menilai pendidikan afektif perlu diperkuat melalui kolaborasi keluarga, sekolah, dan masyarakat. Keteladanan orang tua, guru, maupun lingkungan sekitar menjadi faktor penting dalam membangun karakter peserta didik agar memiliki rasa tanggung jawab terhadap sesama dan lingkungan.

Ali Yusa juga menyoroti potensi Surabaya sebagai kota pembelajaran literasi lingkungan. Berbagai fasilitas seperti bank sampah, rumah kompos, tempat pengolahan sampah terpadu (TPS 3R), Kampung Zero Waste, hingga sekolah Adiwiyata dinilai dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran yang menghubungkan teori dengan praktik.

Berdasarkan data Pemerintah Kota Surabaya, kota ini menghasilkan sekitar 1.800 ton sampah setiap hari. Menurut Ali Yusa, kondisi tersebut menunjukkan bahwa penyelesaian persoalan lingkungan tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur dan teknologi, tetapi juga harus diikuti perubahan perilaku masyarakat melalui pendidikan.

"Karakter dan kesadaran lingkungan tidak dapat dibentuk secara instan. Keduanya tumbuh melalui pendidikan yang menyentuh hati, keteladanan yang nyata, dan kebiasaan yang dilakukan secara terus-menerus," katanya.

Melalui pendidikan afektif berbasis literasi lingkungan, Ali Yusa berharap sekolah tidak hanya menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan kesadaran menjaga lingkungan sebagai bekal menghadapi tantangan pembangunan berkelanjutan di masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....