Produktivitas Padi Melonjak, Petani Klaten Beralih ke Pertanian Organik

  • 13 Jul 2026 15:02 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID : Surakarta - Klaten kembali menunjukkan perannya sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Di tengah capaian stok beras nasional yang menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah, petani di Kabupaten Klaten berhasil mencatat produktivitas panen hingga 10,2 ton per hektare melalui penerapan pupuk organik dan pemupukan berimbang.

Keberhasilan tersebut dicapai melalui serangkaian uji coba di lahan pertanian Kecamatan Trucuk yang dimulai dari skala 10 hektare, kemudian diperluas menjadi 30 hektare hingga 50 hektare. Hasilnya, produktivitas yang sebelumnya berada pada kisaran 7 hingga 8 ton per hektare meningkat secara bertahap hingga menembus angka 10,2 ton per hektare.

Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan atau KTNA Kabupaten Klaten, Marianto, menyebut peningkatan produksi tidak hanya ditopang oleh ketersediaan pupuk dan kebijakan pemerintah yang berpihak pada petani, tetapi juga oleh kesadaran petani untuk mengembalikan kesuburan tanah melalui penggunaan bahan organik.

“ Karena sadar revolusi ke tanah ini perlu. Sehingga kenapa dikatakan produktivitas naik? Karena petani sudah sadar dengan penggunaan unsur-unsur organik. Terus ada peningkatan SDM, “ungkap Marianto dalam dialog intenraktif di RRI Senin (13 Juli 2026)

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Klaten, Tri Praptama, mengatakan pemerintah daerah terus mendorong gerakan "Ora Lali Nambah Organik" atau Gelora Noni sebagai upaya menjaga kesehatan tanah dan mempertahankan produktivitas pertanian dalam jangka panjang. Program tersebut mengajak petani untuk mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia tanpa harus meninggalkannya sepenuhnya.

“ Jadi di Kabupaten Klaten untuk meningkatkan atau mempertahankan produksi kita berupaya salah satunya yaitu dengan kita memunculkan program gelora noni. Gerakan ora lali nambah organik. Dengan penggunaan pupuk kimia yang sudah berlebih perlu adanya perbaikan struktur tanah, “ungkap Tri Praptama.

Di sisi lain, capaian produksi yang tinggi juga berdampak pada meningkatnya harga gabah di tingkat petani yang kini berkisar antara Rp7.000 hingga Rp7.200 per kilogram, lebih tinggi dari Harga Pembelian Pemerintah sebesar Rp6.500 per kilogram. Kondisi ini dinilai memberikan keuntungan lebih besar bagi petani meski menjadi tantangan tersendiri bagi penyerapan gabah oleh Bulog.

Dengan inovasi pertanian organik dan dukungan berbagai pihak, Klaten optimistis dapat terus mempertahankan posisinya sebagai penyangga pangan Jawa Tengah sekaligus berkontribusi terhadap ketahanan pangan nasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....