Kenaikan Suku Bunga: BI Dorong Investor Beralih ke Deposito dan Obligasi
- 12 Jul 2026 18:26 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Kekhawatiran investor muncul karena pasar modal Indonesia saat ini sedang mengalami pelemahan. Di saat yang sama, Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,75 persen sehingga mempengaruhi berbagai instrumen investasi. Hal tersebut dikatakan Andriyan Sayed - Econom and Lecturer The Indonesia Capital Market Institute dalam Obrolan Khusus Investasi Pro4 RRI Makassar pada hari Sabtu, 11 Juli 2026,
Menurut Andriyan, terdapat dua instrumen yang mengalami dampak langsung dari kenaikan suku bunga. Pertama, suku bunga acuan Bank Indonesia yang mempengaruhi tingkat bunga deposito perbankan. Kedua, obligasi pemerintah yang menawarkan tingkat imbal hasil lebih tinggi dibandingkan deposito.
"Selama ini masyarakat lebih mengenal deposito dengan bunga sekitar tiga hingga empat persen yang masih dikenakan pajak 20 persen. Padahal saat ini obligasi pemerintah, seperti ORI atau Obligasi Negara Ritel (Obligasi Ritel Indonesia) seri terbaru, menawarkan kupon sekitar tujuh persen dengan pajak yang lebih rendah, yakni 10 persen. Instrumen tersebut juga dapat dibeli langsung melalui perbankan," jelas Adryan.
Adriyan menambahkan, di atas obligasi pemerintah masih terdapat obligasi korporasi yang mampu memberikan imbal hasil sekitar 10 hingga 11 persen. Namun, instrumen tersebut umumnya diperuntukkan bagi investor institusi, seperti dana pensiun maupun manajer investasi. Ketika pasar saham sedang lesu, sebagian investor cenderung mengalihkan dananya ke instrumen yang lebih aman, seperti deposito maupun obligasi.
"Saat pasar modal sedang melemah, dana investor biasanya berpindah ke pasar uang. Mereka memilih instrumen yang memberikan kepastian imbal hasil, seperti deposito atau obligasi pemerintah yang menawarkan kupon lebih tinggi dengan beban pajak lebih rendah," kata Adryan.
Lebih lanjut, Adriyan menjelaskan bahwa kenaikan suku bunga acuan tidak terjadi tanpa alasan. Salah satu penyebab utamanya adalah meningkatnya inflasi yang menyebabkan harga barang dan jasa mengalami kenaikan. Tekanan inflasi dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal, seperti kenaikan harga energi dan minyak mentah dunia akibat ketegangan geopolitik internasional. Kondisi tersebut berdampak pada kenaikan harga bahan bakar dan berbagai kebutuhan masyarakat.
Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga menjadi faktor yang memperbesar tekanan terhadap perekonomian nasional karena meningkatkan biaya impor serta mendorong kenaikan harga barang. Di sisi domestik kebijakan fiskal pemerintah yang meningkatkan belanja negara juga menjadi perhatian lembaga pemerintah internasional. Menurutnya, lembaga-lembaga tersebut terus memantau kondisi fiskal Indonesia, termasuk keseimbangan antara belanja negara dan penerimaan pajak.
"Ketika risiko fiskal dinilai meningkat, persepsi investor terhadap Indonesia ikut berubah. Hal itu dapat memicu keluarnya dana asing dari pasar keuangan domestik, sehingga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah dan nilai tukar rupiah ikut tertekan”, ujarnya.
Adriyan menjelaskan bahwa untuk menahan arus modal keluar dan menjaga daya tarik investasi di Indonesia, Bank Indonesia memilih menaikkan suku bunga acuan agar instrumen keuangan domestik tetap kompetitif dibandingkan negara lain. Meski demikian, Adrian berpandangan bahwa kenaikan suku bunga sebaiknya tidak dilakukan secara terlalu agresif.
"Yang paling dibutuhkan saat ini adalah kepercayaan investor dan publik terhadap pengelolaan fiskal pemerintah. Jika kepercayaan itu pulih, saya yakin nilai tukar rupiah akan menguat dengan sendirinya tanpa harus terus-menerus menaikkan suku bunga secara agresif”, kata Adriyan.
Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa kenaikan suku bunga memang menguntungkan masyarakat yang memiliki simpanan dalam bentuk deposito. Namun, kondisi tersebut justru menjadi beban bagi masyarakat yang memiliki pinjaman atau kredit karena biaya bunga akan ikut meningkat.
Menutup penjelasannya, Adriyan menyoroti penurunan penjualan ritel yang terjadi selama dua bulan berturut-turut. Menurutnya, kondisi tersebut kemungkinan dipengaruhi oleh tingginya inflasi dan meningkatnya harga energi sehingga masyarakat memilih menahan konsumsi dan menyimpan uang sebagai langkah antisipasi terhadap ketidakpastian ekonomi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....