Dewan Pendidikan Surabaya Minta MPLS Ramah Anak
- 12 Jul 2026 14:41 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Ketua Dewan Pendidikan Kota Surabaya, Prof Martadi, menekankan bahwa Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah harus ramah bagi anak. Oleh karena itu, sekolah tidak boleh lagi melakukan cara-cara negatif seperti bullying kepada peserta MPLS.
Martadi menjelaskan, MPLS ini merupakan tahapan penting untuk menyiapkan siswa baru untuk menjalani proses belajar di tahun ajaran baru. Karena itu, perlu cara-cara yang baik dalam pengenalan lingkungan sekolah.
“Kita pastikan pada saat mereka berada di MPLS juga tidak boleh ada ada bullying, tidak boleh ada apapun gitu ya. Ini kan yang sekarang ditekankan oleh pusat, tidak boleh sama sekali, harus MPLS yang ramah anak, yang menyenangkan dan membuat anak merasa nyaman ketika di sekolah,” kata Martadi, Minggu 12 Juli 2026.
Dijelaskan Martadi, selama proses MPLS ini murid baru harus dilakukan dengan cara menyenangkan agar dapat memberi kesan positif bahwa sekolah menyenangkan. Sehingga, ketika proses belajar mengajar dimulai murid baru merasa nyaman, aman, dan semangat untuk belajar.
Menurutnya, proses yang ramah bagi anak sangat penting karena masing-masing memiliki latar belakang dan berasal dari kondisi rumah dengan berbagai persoalan yang berbeda. Karena itu, penyelenggara MPLS di sekolah harus bisa membuat para murid baru saling mengenal satu sama lain.
“Tentu yang lebih penting adalah memastikan anak-anak bisa saling kenal dengan temannya, kemudian mengenal gurunya, gurunya memberikan rasa nyaman kepada mereka. Sehingga anak-anak betul-betul siap ketika nanti mereka harus menerima pelajaran di tahun ajaran baru ini,” tuturnya.
Tak hanya lingkungan sekolah saja, Martadi juga menekankan perlu adanya pengenalan terhadap lingkungan sekitar sekolah. Menurutnya, ini penting karena murid baru akan dekat dengan masyarakat dengan lingkungan sekitar sekolah.
Pada proses MPLS ini juga sekolah tetap harus memberikan materi pendidikan karakter kepada murid baru. Hanya saja, ia mengingatkan agar tidak memberikan materi berlebihan yang dapat menimbulkan polemik.
Menurutnya, siswa perlu belajar bagaimana menghargai sesame teman, hidup lebih mandiri, dan bertanggungjawab sebagai murid dalam melakukan proses pembelajaran. Selain itu, perlu sekadar pengenalan wawasan kebangsaan, tentang Surabaya, rasa patriotisme.
“Itu saja sih, tapi tidak sampai pada membangun rasa cinta tanah air, karakter yang kemudian menimbulkan problem baru. Misalnya mereka harus dalam tanda petik dipaksa untuk berlatih baris berbaris yang secara fisik kemudian menimbulkan persoalan dan seterusnya. Saya pikir tidak perlulah itu nanti menjadi program-program berikutnya ketika mereka sudah masuk di sekolah,” katanya mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....