Membumikan Al Quran Lewat Ekoteologi
- 10 Jul 2026 10:53 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Ajaran Al-Qur'an tidak cukup hanya dibaca dan dihafalkan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata menjaga kelestarian alam. Pesan tersebut disampaikan Kepala Sekolah MTs Muhyiddin Quraniy, Akhmad Abil Khoiri R., S.Ag., dalam siaran Pro 4 RRI Surabaya Program Cahaya Pagi, Jumat 10 Juli 2026.
Melalui tema Membumikan Al-Qur'an Lewat Ekoteologi Akhmad Abil Khoiri, Al-Qur'an merupakan pedoman hidup yang mengatur hubungan manusia dengan Allah sekaligus dengan lingkungan. Ia menilai berbagai persoalan seperti cuaca ekstrem, banjir, kekeringan, hingga penumpukan sampah menjadi pengingat bahwa manusia perlu kembali memahami ajaran Al-Qur'an secara menyeluruh.
"Al-Qur'an bukan sekadar lembaran mushaf yang dibaca demi pahala setiap hurufnya. Lebih dari itu, Al-Qur'an adalah petunjuk hidup yang harus dibumikan dan diwujudkan dalam gerak nyata di atas bumi tempat kita berpijak," ujarnya.
Ia menjelaskan, konsep ekoteologi menggabungkan keimanan kepada Allah dengan tanggung jawab menjaga alam. Dalam pandangannya, hubungan manusia tidak hanya terbatas pada hablum minallah dan hablum minannas, tetapi juga mencakup hablum minal alam, yakni membangun hubungan yang baik dengan lingkungan sebagai sesama ciptaan Allah.
Akhmad Abil Khoiri menegaskan bahwa kerusakan lingkungan bukan semata-mata bencana alam, melainkan akibat ulah manusia. Ia mengutip Surah Ar-Rum ayat 41 yang menjelaskan bahwa kerusakan di darat dan laut terjadi karena perbuatan tangan manusia agar mereka kembali ke jalan yang benar.
"Status manusia sebagai khalifah di bumi bukan berarti memiliki kuasa mutlak untuk mengeksploitasi alam. Khalifah adalah amanah untuk menjadi pelindung, pengayom, dan perawat seluruh makhluk ciptaan Allah," katanya.
Dalam pemaparannya, ia menyebut terdapat tiga prinsip utama ekoteologi Islam, yaitu tauhid, amanah, dan mizan atau keseimbangan. Prinsip tauhid mengajarkan bahwa bumi, air, udara, tumbuhan, dan hewan merupakan makhluk Allah yang sama-sama bertasbih kepada-Nya sehingga wajib dihormati dan dijaga.
Sementara itu, prinsip amanah mengingatkan bahwa manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas cara memanfaatkan alam. Ia juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan melalui gaya hidup yang tidak berlebihan, termasuk menghemat air, energi, serta menghindari pemborosan yang dilarang dalam ajaran Islam.
Menjawab pertanyaan pendengar, Akhmad Abil Khoiri mengatakan kesalehan seorang muslim tidak cukup diukur dari ibadah ritual, tetapi juga dari kepedulian terhadap lingkungan. Ia mencontohkan hadis Rasulullah SAW tentang seseorang yang memperoleh ampunan Allah karena menyingkirkan ranting berduri dari jalan sebagai bukti bahwa menjaga kebersihan merupakan bagian dari ibadah.
"Setiap pohon yang kita tanam, setiap sampah yang kita kelola dengan benar, dan setiap tetes air yang kita hemat adalah bentuk ibadah dalam membumikan Al-Qur'an. Kesalehan seorang muslim tidak hanya diukur dari lamanya sujud, tetapi juga dari sejauh mana ia menjaga bumi sebagai amanah Allah," tuturnya
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....