Media Massa Harus Bangun Kepercayaan Publik di Era Digital

  • 08 Jul 2026 15:42 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Digitalisasi media massa di Indonesia membawa dampak signifikan, yaitu munculnya krisis kepercayaan publik. Situasi ini disebabkan sejumlah faktor.

Selain dipicu maraknya hoaks, juga praktik clickbait atau cara membuat judul berita yang memancing rasa penasaran. Kemudian konten berita yang membangun framming (cara pandang) negatif.

Ketua Komite Pengaduan dan Penegakan Etika Pers Dewan Pers, Muhammad Jazuli melihat, pesatnya penggunaan media sosial membuat siapapun bisa memproduksi konten. Termasuk menyebaran langsung melalui platform digital.

”Sekarang masyarakat lebih banyak menonton konten di medsos,” katanya, dalam Workshop Membangun Media Lokal yang Berkelanjutan di Isvara Riverside, Rabu, 8 Juli 2026. ”Kalau dulu masyarakat lebih banyak baca berita.”

Namun ia menekankan, tidak semua pembuat konten memiliki pemahaman tentang prinsip jurnalistik dan etika pers. Di satu sisi, media arus utama punya tanggung jawab lebih besar.

Sebab menurut Jazuli, media arus utama wajib mematuhi Undang-Undang Pers, juga Undang-Undang Penyiaran. Termasuk berbagai aturan lain yang mengatur penyajian informasi, baik dalam bentuk tulisan, audio, maupun video.

Direktur Ekosistem Media Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Farida Dewi Maharani

Sedangkan Direktur Ekosistem Media Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Farida Dewi Maharani melihat, semakin beratnya kompetisi media saat ini. Sebab, bertambahnya sumber informasi tidak sebanding dengan sumber pendapatan.

Namun, yang perlu menjadi perhatian pelaku media massa adalah tantangan yang dihadapi. Saat ini, bukan lagi sekadar siapa yang paling cepat memproduksi dan mendistribusikan berita.

”Bagaimana media mampu menghadirkan informasi terpercaya di ruang publik, khususnya di ruang digital,” ujarnya. ”Maka, media harus terus menjadi media kredibel.”

Selain mempertahankan diri sebagai media kredibel, media massa juga perlu merubah paradigma di ruang redaksi. Pemimpin Redaksi Tribun Jogja, Ibnu Taufik Juwariyanto menyebut, berita positif juga memiliki nilai penting.

”Masa depan media tidak hanya ditentukan oleh kecepatan menyampaikan informasi,” ujarnya. ”Tetapi juga mampu membangun kepercayaan, menghadirkan jurnalisme berkualitas, dan bermanfaat bagi masyarakat.”

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....