Tantangan Latih Atlet Disabilitas, Verdian Fokus Cetak Regenerasi Berprestasi
- 07 Jul 2026 20:02 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Menjadi pelatih atlet disabilitas tidak hanya dituntut menguasai teknik olahraga, tetapi juga mampu menyesuaikan metode latihan dengan karakteristik setiap jenis disabilitas. Tantangan tersebut menjadi bagian dari keseharian Pelatih Atletik Disabilitas NPC Jawa Tengah, Verdian Okky Listyanto, dalam membina atlet-atlet muda menuju prestasi.
Verdian mengatakan, sebagai pelatih cabang olahraga atletik, dirinya menangani atlet dari beberapa klasifikasi disabilitas, yakni tunanetra, tunagrahita, dan tunadaksa. Masing-masing memiliki kebutuhan latihan yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan khusus.
"Di atletik ada nomor lari, lompat, dan lempar. Kalau untuk disabilitas, setiap atlet memiliki klasifikasi sendiri. Saya menangani atlet tunanetra, tunagrahita, dan tunadaksa, sehingga metode latihannya juga disesuaikan dengan kondisi masing-masing," ujarnya saat ditemui Selasa 7 Juli 2026.
Menurut Verdian, tantangan terbesar justru dihadapi saat melatih atlet tunanetra. Pelatih dituntut mampu menjelaskan teknik dan kondisi lintasan tanpa bantuan visual, terutama bagi atlet yang mengalami kebutaan sejak lahir.

"Kalau tantangan paling berat sebenarnya di tunanetra. Kami harus memvisualisasikan bagaimana teknik yang benar dan seperti apa lintasan yang akan dilalui. Apalagi bagi atlet yang tunanetra sejak lahir, mereka belum memiliki gambaran visual sehingga proses pembelajarannya membutuhkan kesabaran dan metode yang tepat," katanya.
Sementara itu, pada atlet tunadaksa, tantangan lebih banyak muncul ketika menjalani latihan fisik, khususnya latihan beban. Program latihan harus dimodifikasi agar tetap sesuai dengan kemampuan fisik atlet tanpa mengurangi tujuan pembinaan.
Verdian menjelaskan, pembinaan yang dilakukannya saat ini berfokus pada atlet pelajar berusia sekitar 12 hingga 18 tahun. Mereka dipersiapkan untuk mengikuti berbagai kejuaraan, mulai dari Pekan Paralimpik Pelajar Daerah (Paparda), Pekan Paralimpik Pelajar Nasional (Poparnas), hingga Kejuaraan Nasional bersama atlet senior.
Ia berharap pembinaan sejak usia dini mampu melahirkan regenerasi atlet disabilitas Jawa Tengah yang mampu melanjutkan bahkan melampaui prestasi para seniornya.
"Harapan kami, atlet-atlet pelajar yang sekarang berlatih bisa menjadi penerus atlet senior. Syukur-syukur prestasi mereka nantinya bisa lebih baik dan mampu mengharumkan nama Jawa Tengah maupun Indonesia di berbagai kejuaraan," ucap Verdian. (Ryan Assyidiqi)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....