Museum Kota Makassar Kaji Peninggalan Ratu Wilhelmina sebagai Sumber Edukasi

  • 30 Jun 2026 21:09 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - UPT Museum Kota Makassar, Dinas Kebudayaan Kota Makassar, menggelar Seminar Kajian Koleksi Museum di Ruang Sidang Museum Kota Makassar, Selasa, 30 Juni 2026. Kegiatan ini bertujuan memperkuat kajian ilmiah terhadap koleksi museum sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pelestarian warisan budaya.

Kepala UPT Museum Kota Makassar, Sri Wanti Mamonto, mengatakan seminar tersebut merupakan upaya memperkaya informasi ilmiah mengenai koleksi museum agar dapat dimanfaatkan sebagai sumber penelitian, pendidikan, dan pembelajaran bagi masyarakat. Pada hari pertama, seminar mengangkat tema "Peninggalan Ratu Wilhelmina" dengan menghadirkan narasumber Dr. Muslimin AR Effendy, Dr. Yadi Mulyadi, dan Andini Perdana, serta dimoderatori Nurharlah Dahlan.

Dalam pemaparannya, Dr. Muslimin AR Effendy menjelaskan Patung Ratu Wilhelmina dikirim dari Batavia ke Makassar pada 1906 untuk ditempatkan di Gemeentehuis yang saat itu berada di kawasan Benteng Fort Rotterdam.

Penempatan patung tersebut menjadi bentuk penghargaan Pemerintah Hindia Belanda kepada wilayah Celebes en Onderhoorigheden yang dinilai memiliki posisi strategis serta potensi ekonomi dan politik di kawasan timur Nusantara.

Ia mengungkapkan, berdasarkan hasil kajian, saat ini hanya diketahui terdapat dua patung setengah badan Ratu Wilhelmina yang masih tersisa di Indonesia, yakni di Museum Kota Makassar dan Istana Siak Sri Indrapura, Riau.

Sementara itu, Andini Perdana menjelaskan patung koleksi Museum Kota Makassar yang berbahan perunggu merupakan simbol kekuasaan pemerintah kolonial Belanda di Makassar. Berbeda dengan patung di Istana Siak Sri Indrapura yang terbuat dari tembaga dan menjadi simbol hubungan diplomatik antara Kerajaan Belanda dan Kesultanan Siak.

Menurutnya, koleksi Patung dan Medalion Ratu Wilhelmina bukan sekadar peninggalan kolonial, tetapi juga bukti material yang memiliki nilai penting sebagai sumber penelitian, pendidikan, dan pembelajaran sejarah. Pada kesempatan yang sama, Dr. Yadi Mulyadi menilai keberadaan Patung dan Medalion Ratu Wilhelmina menunjukkan pentingnya posisi Makassar dalam sejarah kolonial Belanda.

"Kehadiran koleksi Wilhelmina, baik patung maupun medalion, adalah bukti bahwa Makassar sangat penting bagi Belanda. Mereka membutuhkan validasi melalui patung dan medalion sebagai representasi kuasa mereka di Makassar," katanya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk menyebarluaskan pengetahuan yang diperoleh melalui museum kepada keluarga dan lingkungan sekitar. Menurutnya, hal tersebut dapat memperkuat pemahaman dan kesadaran kolektif tentang pentingnya museum sebagai ruang edukasi, pelestarian warisan budaya, serta penguatan identitas daerah.

Seminar Kajian Koleksi Museum akan berlanjut pada Rabu (1/7/2026) dengan tema kajian koleksi pakaian adat. Melalui kegiatan ini, UPT Museum Kota Makassar berharap museum semakin berperan sebagai pusat edukasi, penelitian, dan pelestarian warisan budaya bagi masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....