Perjalanan Jurnalis Muda asal Tana Toraja Raih Cumlaude di UNY

  • 30 Jun 2026 13:29 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Tidak semua gelar sarjana atau magister diperoleh melalui perjalanan yang mulus. Ada yang harus melewati masa-masa menjadi korban perundungan, kehilangan harapan, bekerja sambil kuliah, hingga menembus daerah pelosok demi meraih mimpi.

Semua perjalanan itu dialami Kristiani Tandi Rani, jurnalis muda asal Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Perempuan kelahiran 7 Juni 2000 itu berhasil menyelesaikan studi Magister di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dengan predikat cum laude. Ia meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,89 hanya dalam waktu satu tahun enam bulan, sembari bekerja sebagai jurnalis untuk membiayai pendidikannya.

"Banyak orang hanya melihat saya lulus cum laude. Padahal, gelar ini lahir dari perjuangan yang sangat panjang," ujarnya, Senin, 29 Juni 2026.

Perjuangan Kristiani meraih mimpi dimulai jauh sebelum memasuki dunia jurnalistik. Anak bungsu dari dua bersaudara itu mengaku pernah menjadi korban perundungan sejak sekolah dasar hingga kelas tiga SMP. Pengalaman tersebut membuatnya kehilangan kepercayaan diri, bahkan sempat berpikir mengakhiri hidup.

"Obat kedaluwarsa sudah ada di tangan saya waktu itu. Saya benar-benar ingin mengakhiri hidup. Tapi nenek mengetuk pintu kamar. Dari situ saya berpikir, kalau Tuhan masih memberi kesempatan hidup, berarti saya harus mengembangkan bakat yang saya punya," katanya.

Titik balik hidupnya bermula ketika ia memberanikan diri mengikuti seleksi penyiar radio di RPK FM Tana Toraja. Pengalaman itu perlahan membangun kembali rasa percaya dirinya hingga akhirnya jatuh cinta pada dunia jurnalistik.

Saat masih menempuh pendidikan sarjana, Kristiani bergabung dalam tim peluncuran Tribun Toraja. Namun, di tengah awal kariernya sebagai wartawan, cobaan kembali datang. Ia harus menjalani operasi setelah dokter sempat menduga dirinya mengidap kanker. Selama dua bulan, ia hidup dalam ketakutan menunggu kepastian diagnosis.

"Saya sempat berhenti bermimpi. Dua bulan saya hanya menunggu mati. Tetapi ketika saya masih hidup, saya kembali ingat cita-cita melanjutkan S2," ujarnya.

Keinginan melanjutkan pendidikan sempat terhambat biaya. Setelah mengundurkan diri dari pekerjaannya, ia tidak memiliki cukup uang bahkan untuk membayar biaya pendaftaran. Hingga suatu hari, ia mendapatkan honor dari sebuah tugas peliputan yang nilainya mencukupi untuk membayar biaya pendaftaran program magister di UNY.

Meski telah diterima di UNY, perjuangan Kristiani belum berakhir. Demi membayar biaya kuliah, Kristiani menerima pekerjaan sebagai jurnalis di Mahakam Ulu, salah satu kabupaten terluar di Kalimantan Timur yang memiliki akses transportasi dan komunikasi terbatas.

Di daerah itulah ia menjalani kehidupan yang tak pernah dibayangkannya. Liputan dilakukan dengan speedboat menyusuri sungai, sinyal internet sering menghilang, bahkan banjir menjadi bagian dari keseharian. Di sela-sela tugas jurnalistik, ia tetap mengikuti kuliah daring, mengerjakan tugas, hingga menyelesaikan tesis dari sebuah bekas kantor Dinas Pariwisata yang ia beri nama "Universitas Mahakam Ulu".

"Banyak orang hanya melihat saya lulus cumlaude. Padahal, gelar ini lahir dari Mahakam Ulu. Saya kuliah sambil liputan, mengejar sinyal, naik speedboat, menulis tesis di bekas kantor dinas, lalu kembali bekerja. Rasanya benar-benar berdarah-darah. Karena itu, gelar ini saya persembahkan untuk Mahakam Ulu," katanya.

Setelah kembali ke Yogyakarta untuk menyelesaikan tesis, perjuangan itu berlanjut. Dengan penghasilan setara upah minimum, Kristiani mengandalkan Trans Jogja sebagai moda transportasi utama karena belum terbiasa mengendarai sepeda motor. Rekan-rekan sesama jurnalis bahkan menjulukinya "jurnalis busway". Julukan itu menjadi simbol solidaritas, karena mereka tak segan menjemput dan mengantarnya ketika lokasi liputan tidak terjangkau transportasi umum.

Di tengah kesibukan kuliah dan bekerja, Kristiani tetap aktif melayani di Gereja Mawar Sharon sebagai sponsor Connect Group YA 06 Yogyakarta, pelayanan anak Eagle Kids, serta bergabung dalam Persekutuan Mahasiswa Kristen Magister dan Doktoral (Permata) UNY. Berbagai prestasi profesional juga berhasil diraihnya, mulai dari lulus Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Muda pada usia 23 tahun, meraih penghargaan Penulis Hard News Terbaik IV dari BRI, hingga menjadi Terbaik V dalam Insto Jurnalis Competition.

Bagi Kristiani, gelar cum laude bukanlah akhir dari perjalanan. Baginya, pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa masa lalu yang penuh luka, keterbatasan, maupun jarak yang jauh bukanlah penghalang untuk terus melangkah. Selama masih ada keberanian untuk bangkit, selalu ada jalan menuju mimpi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....